BURNOUT
  • WpView
    Reads 223
  • WpVote
    Votes 36
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 26, 2022
WpInfo
Fanfic
NCT
Jayden kalah, semesta selalu memerangi hidupnya dengan berbagai luka dan kecewa. Ia pikir semesta berpihak padanya, nyatanya semesta hanya ingin mempermainkannya. Bagaimana bisa? Ia yang sudah terluka, lagi lagi harus mengecap rasa kecewa yang tiada hentinya. Mamah, mungkin orang akan menganggap ia adalah sosok dewasa yang akan selalu memeluknya dikala lara. Papa, yang ia kira akan merangkulnya dikala ia goyah. Nyatanya, mereka alasan Jayden hancur dan terluka. Jayden Kecil yang tak tahu apapun hanya bisa mengangguk ketika mama menuntutnya lebih dewasa dibandingkan sang kakak. Sedangkan papa, ia hanya akan berucap manis kala ada maunya saja. Belum lagi hadirnya anggota baru, membuat nya siap untuk dijadikan yang terakhir. Namun setidaknya, Jayden bersyukur, kakak dan adiknya tidak semena mena. Mereka menghargainya sebagai saudara. Mereka menyayanginya dengan tulus tanpa membedakan. Jayden pikir itu, sudah cukup.
All Rights Reserved
#14
jidan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jovanka dan Abang Kembar
  • Still with Pain (Terbit)✓
  • Angkasa dan Cerita
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Sámpái Jumpá :) [Tamat]
  • Semesta Sementara
  • 2 AYDEN ✓
  • Dalam Diam, Aku Pamit {Terbit}
  • Is About Haechan Story (AllxHaechan)
  • Tak punya Ayah, Tapi Aku punya Ibu yang hebat

Hendra dan Narendra Dewantara terlahir dengan beban yang tak mereka mengerti. Sejak kecil, mereka harus mendengar bisikan-bisikan bahwa mereka adalah anak pembawa sial. Namun, di balik semua itu, mereka masih memiliki kasih sayang dari kedua orang tua mereka-setidaknya hingga bayi kecil itu lahir. Jovanka, adik bungsu mereka, hadir ke dunia dengan membawa perubahan besar. Kehadirannya mengubah segalanya. Orang tua mereka, Dewantara dan Cinthya, yang dulu begitu menyayangi mereka, perlahan menjauh. Semua perhatian, semua kasih sayang, semua harapan yang dulu diberikan untuk mereka, kini hanya tertuju pada satu sosok-Jovanka. Hendra dan Narendra tumbuh dengan kebencian yang tak mereka pahami. Bagi mereka, Jovanka adalah alasan mereka kehilangan orang tua. Bayi mungil itu adalah penyebab semua kehancuran. Maka, tanpa sadar, mereka ikut menjauh. Mereka membiarkan adik mereka tumbuh sendirian dalam dingin, tanpa pelukan hangat seorang kakak. Namun, waktu mengajarkan mereka banyak hal. Perlahan, kebenaran terungkap. Luka yang selama ini mereka kira milik mereka saja, ternyata juga terukir dalam diri Jovanka. Dan saat mereka menyadari itu, sudah terlambat. Adik mereka telah berjalan terlalu jauh dalam gelap, terjebak dalam luka yang tak pernah mereka lihat. Kini, di antara penyesalan dan keinginan untuk menebus segalanya, Hendra dan Narendra berjanji. Mereka tidak akan membiarkan Jovanka menghadapi semuanya sendirian lagi. Tidak peduli berapa banyak duri yang harus mereka lalui, tidak peduli seberapa terlambat mereka menyadarinya-mereka akan memastikan adik mereka tidak lagi merasa sendirian. Namun, apakah cinta dan penyesalan cukup untuk menyembuhkan luka yang telah terukir begitu dalam? Ataukah semua ini sudah terlambat? Karena tak peduli seberapa besar keinginan mereka untuk melindungi, pada akhirnya hanya ada satu pertanyaan yang harus dijawab: apakah seorang pangeran yang telah kehilangan mahkotanya masih bisa menemukan rumahnya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines