RENGGANIS (21+)

RENGGANIS (21+)

  • WpView
    LECTURAS 2,560
  • WpVote
    Votos 20
  • WpPart
    Partes 5
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación sáb, nov 9, 2024
"Ahhh" Lenguhku saat aku rasakan saga menggigit leherku. Saga bangkit dari posisi nya dan dia menatapku, tepatnya bagian leherku. "Karya yang bagus" Ujarnya. Aku hanya menatap nya bingung, tidak mengerti apa maksud dari perkataan nya. Saat mendapati saga lengah, aku langsung mendorong dada bidang nya dan berlari secepat mungkin menaiki tangga untuk memasuki kamar. Aku pun langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat sedang berdiri di wastafel, aku melihat pantulan diriku di cermin. Disana terpampang jelas 'Kissmark' ulah dari seorang sagara. Jadi ini yang dimaksud dia dengan sebuah karya? "Sial. Gimana cara nutupin nya coba?" gumamku saat melihatpantulan diriku di cermin.
Todos los derechos reservados
#39
teenfiction2018
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Tingkat Tiga
  • Naughty Nanny
  • MY PERFECT LECTURER✓ [COMPLETED]
  • Loving You
  • The Beauty Inside(Complete)
  • BarraKilla
  • THE VIP : GOLDEN HIGH SCHOOL
  • erreur
  • Cinta Dan Senja
  • Sticky Note [TERBIT]✅

"Kenapa ya mbak ada orang yang cakep banget gini di dunia?" jawabnya sembari menunjuk ke arahku. Mataku membulat. Bukan karena dia mengataiku sebagai perempuan yang cukup cantik, namun karena perubahan panggilan yang dia berikan padaku. "Mbak?" tanyaku memastikan. Alih-alih menggeleng atau mengelak, Rafka justru langsung mengangguk. "Iya. Mbak Caca." "Ngapain ikut panggil gue mbak?" "Biar lebih deket aja. Lo kan dipanggil mbak sama Keenan." "Ya dia kan adik gue." Balasku sengit. "Ya gue mau ikutan, Mbak. Kedengaran lebih gemes." Aku memutar bola mata jengah. "Gemes-gemes apaan. Lo mau jadi adik gue juga?" "Kalo jadi pasangan lo aja gimana?" "Kalo gitu jangan panggil mbak." Rafka menegakkan tubuhnya. "Lo serius?" "Soal apa?" "Lo mau jadi pacar gue." "Siapa yang bilang?" tanyaku berpura-pura bingung. "Tadi kak. Lo bilang gue jangan panggil lo 'mbak' kalo nggak mau dianggap jadi adik." "Artinya lo mau kan jadi pacar gue?" lanjutnya menuntut jawaban.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido