NALLA

NALLA

  • WpView
    Reads 276
  • WpVote
    Votes 248
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Mar 13, 2022
Aku menyukai sudut-sudut bumi yang dihinggapi bayang semu sang mentari, sebab teduhnya selalu menjadi incaranku berdiam diri. Di sana aku bisa menata kembali puing hancur, tanpa peduli air mata yang terus mengucur. Aku suka ketika menjadi sosokku yang sebenar-benarnya aku, manusia lemah yang di titipi rapuh. Titik puncaknya adalah aku bisa melepas segalanya, baik duka maupun luka. Lantas jiwa yang turut memejamkan mata, menerima segenap kacau dengan kepasrahan raga. Lepas, semuanya terlepas. #JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM MEMBACA. √CERITA MURNI HASIL PEMIKIRAN SENDIRI. PLAGIAT DOSA√
All Rights Reserved
#718
hancur
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dear of Natasya
  • NADIRAEFAL
  • SATRIA : not considered
  • LANGIT JINGGA (TAMAT)
  • Gladis Story [SELESAI ✓]
  • EVIDEN (Republish)
  • You Are Mine [Terbit]
  • STORY KEISHA (TAMAT)
  • Devaul • completed

"Aku tersenyum bukan karena bahagia, tapi karena aku tak ingin kalian melihat aku runtuh." - Natasya Kirana Maharani Natasya Kirana Maharani, seorang gadis 14 tahun yang tampak ceria di luar, menyimpan lautan luka di dalam dirinya. Ia hidup di antara ketiadaan kasih sayang keluarga, dikhianati oleh satu-satunya cinta yang ia percayai, dan terjebak dalam gelapnya lorong kesehatan mental yang terus menghantuinya. Meski dunia seperti runtuh, Natasya masih bisa tersenyum. Ia mendirikan komunitas kecil di sekolah bernama Langit yang Menangis Diam-Diam, tempat di mana anak-anak lain yang juga terluka bisa menuliskan isi hati mereka tanpa takut dihakimi. Komunitas itu menjadi suara bagi mereka yang sunyi, menjadi bahu bagi mereka yang diam-diam ingin menyerah. Namun, tidak semua orang menyukai kejujuran. Komunitas itu mendapat serangan, hujatan, bahkan dihancurkan. Sahabat menjauh, pacar memilih diam, dan luka-luka lama kembali terbuka. Natasya terus bertahan. Ia terus menulis. Terus meyakinkan orang lain bahwa mereka layak hidup, meski hatinya sendiri sudah lama remuk. Hingga pada suatu malam, ketika tak ada lagi pelukan yang cukup hangat, ketika suara-suara di kepalanya terlalu bising, dan ketika senyumnya tak lagi mampu menahan air mata... Natasya memutuskan untuk meninggalkan dunia yang tak pernah benar-benar menerima keberadaannya. Ia meninggalkan surat terakhir di ruang komunitas yang dulu ia bangun: "Aku lelah menjadi kuat. Tapi aku ingin kalian tahu: kalian layak hidup, bahkan saat aku memilih berhenti." ---

More details
WpActionLinkContent Guidelines