We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Terjebak di Pulau Misterius

Terjebak di Pulau Misterius

  • WpView
    Reads 0
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 26, 2022
WpInfo
Fiction
Mystery
Ken mulai merasakan hawa panas pada punggungnya. Lalu dalam bayangannya terlihat sebuah kapal yang hancur berantakan ditelan ombak. Entah apa yang akan terjadi nanti, yang jelas itu adalah pertanda buruk. "Sehari lagi. Ya, kurang lebih sehari lagi itu akan terjadi," lirihnya, disambut tatapan kebingungan oleh ibunya. "Apa yang kamu maksud dengan sehari lagi?" panik ibunya. Baru saja Ken akan menggerakkan bibirnya, tiba-tiba sebuah guncangan pada kapal menyebabkan para penumpang terhuyung ke depan dan belakang. Ada juga yang terjatuh ke lantai, karena sebelumnya tak berpegangan apa pun. "Semuanya, bersiap untuk menaiki sekoci! Akan terjadi masalah pada kapal ini!" seru Ken sekuat tenaga, membuat orang-orang yang berada di sekitarnya menoleh. Sebenarnya, apa yang akan terjadi dengan kapal yang dinaiki Ken? Benarkah firasat itu akan terjadi, atau ... Ken hanya mengada-ngada?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Devil in Your (ANGGARANTA)
  • Katanya Jadi Anak Terakhir Enak - WOONHAK [Terinspirasi dari kisah nyata]
  • Cyber Security (Love In The Rainy Season)
  • Hiraeth ✔ ( END )
  • last hold S2 ✓
  • Puing luka
  • Bayangan di Malam Kelam(xodiac)
  • Age Quod Agis
  • My Life ( Lookism edition )

[PROSES REVISI] Series pertama Anggaranta Bagaimana rasanya, difitnah oleh keluarganya sendiri, sakit!! ia hanya bisa menangis bodoh dan tersenyum miris akan semua. Diusir karena ego lebih kuat. Dibuang layaknya sampah. Hanya karena, seorang yang licik penggila harta. "Abang, gak benci sama Gea kan? Mereka aja benci sama Gea." tanya Gea sendu. 'Gimana bisa gua benci lo, sedangkan mereka yang penjilat harta malah gua sayang?' "Gak! Geo gak benci. Geo udah tahu semuanya. Mereka cuma manusia busuk penjilat harta yang kebetulan terlahir di keluarga berada." jelas Geo menahan tangisnya. 'Gua udah tau semuanya ya. Makanya, gua gak mau lagi tinggal di kandang iblis itu.' "Gua udah tau semuanya. Mereka cuma mikirin tentang harta. Bahkan, papa yang notabe-nya sayang sama kita aja, itu digaji sama oma setiap harinya. Geo udah sadar sekarang, mereka cuma kecoak yang hanya bisa mengotori dunia." sambung Geo lagi. 'Geo cuma sayang Gea. Semua adalah lalu kecuali Gea.' "Abang sampai-sampai gak habis mereka. Otaknya berisi tentang harta doang. Ada ya, manusia kejam kaya mereka?" tanya Geo seraya tersenyum miris. 'Abang, udah ngerti soal itu yah?' "Abang, dengerin Gea. Itu emang udah jadi takdir mereka." tutur Gea lembut. "Tetep aja Ya. Mereka terlalu kejam memisahkan kita." balas Geo lagi. "Bukan dunia yang kejam, tapi manusia yang menginjakkan kakinya di sana." ••• Ryan terkekeh sinis, "Papi? Sejak kapan anda menjadi papi saya?? Hm?" tanyanya dengan cekikikan. 'Apa-apaan sikap ini!?!' Hendrik menatap murka anaknya itu, "Kau harus terima, atau marga Wijaya saya cabut dari namamu." ancamnya lagi. Ryan menatap sengit pria paruh baya itu, lalu tersenyum miring. "Apa anda berani??" tanyanya menantang. "Tentu saja saya berani! Saya adalah pemilik dan penguasa marga Wijaya. Jadi, untuk apa saya takut hanya untuk mencabut nama Wijaya dari bocah ingusan sepertimu!" gertaknya mengancam, suasana berubah semakin mencekam. [END]

More details
WpActionLinkContent Guidelines