Story cover for VAINA by Cindi__Claudia
VAINA
  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
Ongoing, First published Feb 28, 2022
Pernah bayangin alam semesta tanpa bumi? Bisa jadi manusia gak pernah diciptakan, planet yang mengelilingi matahari sebagai porosnya cuman ada 7, dan bahkan, mungkin aja bulan malah gabut tanpa arah karena gak ada bumi

Itu yang dirasakan seorang pria yang bernama Wildan, dia punya bumi yang menunjukkan ketentraman dan keindahan padanya, tapi sayangnya takdir mengambil paksa dia. Yahh, ditinggalkan memang selalu memberikan luka. Tapi kalau kasusnya begini susah juga yah

7 tahun berlalu setelah kejadian yang pahit itu, Wildan mengunjungi makam sang empunya (Vaina) gadis yang ceria tapi mati muda secara dramatis dikamarnya sendiri. Dan tau yang paling menyedihkannya apa? Polisi menutup kasus itu sebagai bunuh diri karena pisau yang digunakan untuk membunuhnya terdapat sidik jarinya sendiri

Omong kosong memang, itulah yang membuat Wildan susah untuk menerima kematian Vaina. Gadis ceria mana coba yang bisa membunuh diri sendiri kecuali punya kepribadian ganda?

Wildan meninggalkan pemakaman dan berkata "Jika aku tau kehilanganmu akan membuatku menjadi orang yang paling menyedihkan sedunia, apakah waktu bisa memberikan kemurahan hatinya untuk mencegahku kehilanganmu?"



Apa waktu akan membalas permohonan Wildan? Jika waktu benar benar kembali apa dia bisa menghentikan kematian Vaina dan mengungkap kebenaran dari pembunuhan itu? Ikuti cerita VAINA, jangan lupa vote dan komennya juga yah!!!
All Rights Reserved
Table of contents
Sign up to add VAINA to your library and receive updates
or
#70kembalikemasalalu
Content Guidelines
You may also like
I Love You by TiaraFebiola3
44 parts Complete
Ada yang bilang disaat kita menunggu kita akan mendapat yang kita mau. Tapi apa itu adalah sebuah fakta atau hanya hal manis yang di ucapkan kepada anak-anak? Ada yang bilang disaat kita tersenyum maka hati kita akan tersenyum juga, tapi apa itu hanya nasihat tersirat yang di ucapkan untuk anak kecil? "INI SEMUA SALAH LO RISS! KALAU SAJA HATI LO ADA RASA EMPATI, DIA GAK AKAN PERGI!!" Terkadang kalimat yang di ucapkan oleh manusia lebih mematikan daripada tusukan pedang di jantung. Kalimat yang terus menerus menghantui hari hari ku membuat ku kehilangan diriku sendiri. Kalimat yang membuat diri ku yang dulu hangat menjadi dingin tanpa ada senyuman tulus yang terukir di wajah ku. Aku yang terkadang berharap jika diri ku yang harusnya mati lebih dulu daripada harus hidup dengan beban yang terkadang aku gak mampu menahan nya. Semenjak aku yang di tinggal pergi oleh orang tua ku. Aku yang kehilangan sahabat terbaik ku yang aku baru menyadari jika ternyata dia merupakan cinta pertama. Aku juga wanita yang kehilangan kakak yang sebenarnya masih bisa aku pertahankan. Karena kalimat tadi, aku membuang semua nya! Aku kehilangan semuanya termasuk diri ku sendiri! Aku gak tau siapa diri ku! Hingga pria itu datang. Dia menyebalkan! Aku membenci nya! Namun kenapa disaat aku menyukainya aku kembali di hadapkan rasa kehilangan yang menanti. Apa hidupku hanya selalu harus kehilangan? Jika aku boleh egois bisa kah aku bersama pria itu? Atau aku hanya akan mati tragis tanpa merasakan cinta apapun?
You may also like
Slide 1 of 10
Erlangga cover
Avisha or Avalle : An Extra cover
ELGITA  (TERBIT) cover
Ending Transmigrasion ? [ End ] cover
The Last Birthday With You  cover
Viona Or Ryn || Revisi {Slow Update} cover
I Love You cover
Cute Boys.[Bl] cover
RAIN [END] cover
25 Hari, Mencoba Berdamai cover

Erlangga

7 parts Complete

Erlang selalu berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa ia genggam erat. Bahwa ketika dua orang saling mencintai, mereka akan tetap bertahan, apa pun yang terjadi. Tapi nyatanya, itu hanya keyakinan naif yang perlahan hancur di hadapannya. Pacarnya pergi karena dia sudah menemukan yang baru. Semua janji, semua rencana masa depan, semuanya runtuh dalam sekejap. Erlang hanya bisa menatap kepergiannya, bertanya dalam hati, "Apa aku kurang baik?" Belum juga ia berdamai dengan kehilangan itu, takdir menamparnya lebih keras. Sahabatnya, satu-satunya orang yang mengerti dia tanpa banyak bicara, pergi-bukan karena memilih, tapi karena kehidupan memutuskan demikian. Kali ini, kepergian itu benar-benar untuk selamanya. Tidak ada kesempatan untuk meminta maaf, tidak ada lagi tawa yang bisa dibagi. Ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, kehilangan orang yang selalu ada untuknya-Erlang berpikir, mungkinkah ia memang ditakdirkan untuk sendiri? Namun, di tengah kehancurannya, ada satu orang yang tetap di sisinya. Seseorang yang tak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus mendengar. Sahabat yang tidak pernah menjanjikan apa pun, tapi selalu ada tanpa diminta. Dan dari sana, tanpa Erlang sadari, luka yang ia pikir tak akan sembuh perlahan mulai menemukan cahaya. Cinta yang ia kira sudah mati, ternyata masih punya kesempatan untuk hidup kembali. Apakah Erlang siap membuka hatinya lagi? Atau masa lalu akan terus menghantuinya?