LEMBAYUNG

LEMBAYUNG

  • WpView
    Reads 14
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Fri, Mar 4, 2022
Desau angin siang itu mendadak terhenti. Kicau burung dan suara berbagai jenis binatang pun seolah sirna. Tak ada gemeretak ranting pohon yang patah, maupun gemericik air pada anak sungai yang tak jauh dari sana. Sedetik kemudian cahaya matahari pun seakan bertahan pada panas yang sama. Waktu seolah berhenti. Kehidupan seakan terjeda pada satu titik yang hampa akan udara. Tak ada helaan napas ataupun kedipan kelopak mata. Hanya hening yang menekan semakin kuat hingga dada seseorang yang mengalaminya akan meledak tanpa suara. Dan itulah detik terakhir baginya berada di dunia. Karena selanjutnya ia akan melanglangbuana di alam baka. Sungguh mengerikan ilmu kanuragan ini, karena ia mampu menghabisi seseorang dalam diam tanpa suara. Tanpa senjata dan luka menganga. Tanpa satupun orang mengetahuinya. Hanya korban dan pemilik ilmu kanuragan tingkat tinggi yang disebut dengan Senyap, yaitu Lembayung namanya.
All Rights Reserved
#13
kanuragan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Space Between Us
  • AIR MATA IBLIS : untold story of Kanaya
  • »The Love Behind Secrets!
  • Voices In The Ocean : Cursed Man, Zale Merville [End]
  • Equanimity(End)
  • Tiger Man
  • ...
  • Permainan Takdir [TAMAT]

Langit Jakarta sore itu selalu terasa sama bagi Deshita kelabu, pengap, dan menyesakkan. Setiap harinya adalah sebuah rutinitas yang menguras energi, sebuah perjuangan tak henti untuk sekadar bernapas di tengah tuntutan masalah yang tak ada habisnya, ekspektasi keluarga yang membebani, dan hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur. Dia merasa seperti sehelai daun kering yang terombang-ambing tanpa arah, lelah mencari tempat untuk berlabuh. Senyumnya semakin tipis, tawanya semakin jarang, dan yang tersisa hanyalah rasa frustasi yang mengendap di dasar hatinya. Ia merindukan ketenangan, merindukan rasa nyaman yang sudah lama hilang. Di tengah keputusasaan itu, takdir mempertemukannya dengan Seseorang yang menjadi penyelamat hidupnya di tegah keterpurukan. Perlahan, kehadirannya mulai mengubah warna dunia Deshita yang semula monoton. Dia tidak datang dengan solusi ajaib, melainkan dengan telinga yang mau mendengar, bahu yang siap menopang, dan tatapan mata yang penuh pengertian. Bersamanya, Deshita menemukan ruang untuk menjadi dirinya sendiri, tanpa beban dan tanpa topeng. Dia adalah tawa yang memecah kesunyiannya, pelukan yang mengusir dinginnya, dan bisikan lembut yang menenangkan badai dalam dadanya. Ia tak pernah tahu bahwa "rumah" itu bukan selalu tentang sebuah bangunan, melainkan tentang seseorang yang bisa membuatmu merasa utuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines