Story cover for endless torture  by moon_vii
endless torture
  • WpView
    Reads 26
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 2
  • WpView
    Reads 26
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 2
Ongoing, First published Mar 06, 2022
"jangan kembali melangkah jika kau sudah ragu dengan jalan itu." 


"Tapi aku mencintaimu." 


"Jalan itu buntu untuk hatimu sementara jalan itu sangat panjang jika dilihat oleh mata mu." 


"Tuhan lebih sayang denganku ya" 


"Maaf menyusahkan dirimu selama ini cintaku tetap ada padamu meski ragaku sudah tidak bersamamu." 


Jika hari itu bisa di ulang Taeil berharap dia bisa mengubah keputusan kekasihnya. Taeil berharap jika saja Tuhan tidak terlalu menyayangi dirinya hingga membuat kekasihnya menderita. 


Penderitanya hilang dalam satu kedipan mata. Tapi setelah kedipan terakhir binar dan cahaya itu menghilang perlahan menyisakan kegelapan. Setelah kegelapan hujan pun ikut datang melengkapi kegelapan yang ada.
All Rights Reserved
Sign up to add endless torture to your library and receive updates
or
#46ilyoung
Content Guidelines
You may also like
Bulan Bintang by sugaring__cookie
4 parts Ongoing
Ia yang dijuluki Bintang, Skayara Bintang Adhiyaksa. Ia bukan langit yang dipuja, tapi serpih cahaya kecil yang berusaha tetap menyala di tengah gelap. Seorang penghuni pagi yang berjalan dalam sunyi, membelah dingin dengan sepeda motor renta yang kini lebih sering batuk daripada berjalan. Hidupnya adalah barisan luka yang diolesi senyum retak tapi tetap indah. Setiap hari ia menjamu waktu dengan aroma kopi dan kepulan harapan hidup. Tangannya menari di antara cangkir dan kerinduan yang diam-diam ia telan dalam hirupan pertama. Ia menyapa dunia dengan tutur lembut, walau isi hatinya dipenuhi tanda tanya: "Sampai kapan aku harus kuat?" Tak banyak yang melihat kehidupannya, tapi ia adalah puisi berjalan disusun dari kepingan lelah, dipoles oleh harap. Ia tak bersinar terang, tapi cukup gemerlap untuk diingat oleh langit yang pernah kehilangan bintangnya. Ia yang dinamai Bulan, Raespati Bulan Sadipta. Lelaki itu adalah senyap yang bersuara. Diamnya bukan karena tak peduli, tapi karena ia menyimpan terlalu banyak sakit yang tak sanggup diucapkan kata-kata. Ia tinggal di antara deru mesin dan debu jalanan, di mana suara knalpot adalah musik, dan peluh Tangannya kasar seperti jalanan rusak, tapi setiap gerakannya adalah sajak membenahi yang rusak, menyambung yang patah, menghidupkan yang mati. Bengkelnya kecil, nyaris tersembunyi oleh waktu, tapi hatinya luas, menyimpan matahari yang enggan terbit. Ia tak mencari dunia. Ia hanya ingin bertahan. Hidupnya adalah malam panjang yang ditemani bulan sabit: separuh terang, separuh gelap, namun tetap bertahan menggantung di langit. Dan dalam diamnya, ia berharap seseorang akan datang bukan untuk menyelamatkan, tapi untuk duduk bersamanya dalam sunyi.
Langit Tak Bertemu Bumi by abiramaputugunio
46 parts Complete
Di tengah keramaian kota yang sibuk, ada sepasang kekasih yang berjuang melewati segala rintangan yang menghadang hubungan mereka. Mereka telah melalui banyak kesulitan dan cobaan, namun selalu ada harapan yang menyinari jalan mereka, meskipun kebahagiaan terasa tertunda. Pemandangan di gambar ini menggambarkan momen saat mereka berdua berdiri di tengah hujan, saling menatap dengan penuh kasih. Wanita yang memakai gaun putih, memegang tangan pria dengan lembut, sementara pria itu memandangnya dengan penuh perhatian dan rasa syukur. Meskipun langit tampak mendung dan hujan turun perlahan, di antara mereka berdua tetap ada kehangatan yang tak tergoyahkan. Di belakang mereka, terdapat pemandangan kota yang sibuk dengan lampu-lampu yang bersinar samar di kejauhan, seolah menggambarkan dunia yang terus bergerak cepat, namun mereka berdua hanya saling memandang, seperti waktu berhenti untuk mereka. Dalam keheningan itu, mereka menyadari bahwa meskipun kebahagiaan datang terlambat, cinta yang mereka miliki telah menguatkan mereka untuk terus bertahan. Cerita ini mengisahkan perjalanan cinta yang penuh liku, di mana perjuangan untuk menjaga perasaan dan kepercayaan satu sama lain tak selalu mudah. Namun, meskipun harus menunggu lebih lama untuk kebahagiaan yang sempurna, mereka akhirnya menyadari bahwa kebahagiaan itu sudah ada di depan mata mereka, hanya saja membutuhkan waktu untuk menemukan jalan yang tepat. Ini adalah kisah tentang kesabaran, kepercayaan, dan kekuatan cinta yang tak terbatas, di mana kebahagiaan yang tertunda akhirnya datang dengan cara yang lebih indah daripada yang mereka bayangkan. Bab 46
You may also like
Slide 1 of 9
Bulan Bintang cover
LOVE WINS ALL || Yeonseok x Soobin [END] cover
The Power Of Miracle ✔ cover
MR.MINISTER, ANYEONG! cover
Sassy wifey, Silent Hubby cover
Because Of Rain [End] cover
Langit Tak Bertemu Bumi cover
Love You Faithfully √ cover
Tentang Kamu [ On Going] cover

Bulan Bintang

4 parts Ongoing

Ia yang dijuluki Bintang, Skayara Bintang Adhiyaksa. Ia bukan langit yang dipuja, tapi serpih cahaya kecil yang berusaha tetap menyala di tengah gelap. Seorang penghuni pagi yang berjalan dalam sunyi, membelah dingin dengan sepeda motor renta yang kini lebih sering batuk daripada berjalan. Hidupnya adalah barisan luka yang diolesi senyum retak tapi tetap indah. Setiap hari ia menjamu waktu dengan aroma kopi dan kepulan harapan hidup. Tangannya menari di antara cangkir dan kerinduan yang diam-diam ia telan dalam hirupan pertama. Ia menyapa dunia dengan tutur lembut, walau isi hatinya dipenuhi tanda tanya: "Sampai kapan aku harus kuat?" Tak banyak yang melihat kehidupannya, tapi ia adalah puisi berjalan disusun dari kepingan lelah, dipoles oleh harap. Ia tak bersinar terang, tapi cukup gemerlap untuk diingat oleh langit yang pernah kehilangan bintangnya. Ia yang dinamai Bulan, Raespati Bulan Sadipta. Lelaki itu adalah senyap yang bersuara. Diamnya bukan karena tak peduli, tapi karena ia menyimpan terlalu banyak sakit yang tak sanggup diucapkan kata-kata. Ia tinggal di antara deru mesin dan debu jalanan, di mana suara knalpot adalah musik, dan peluh Tangannya kasar seperti jalanan rusak, tapi setiap gerakannya adalah sajak membenahi yang rusak, menyambung yang patah, menghidupkan yang mati. Bengkelnya kecil, nyaris tersembunyi oleh waktu, tapi hatinya luas, menyimpan matahari yang enggan terbit. Ia tak mencari dunia. Ia hanya ingin bertahan. Hidupnya adalah malam panjang yang ditemani bulan sabit: separuh terang, separuh gelap, namun tetap bertahan menggantung di langit. Dan dalam diamnya, ia berharap seseorang akan datang bukan untuk menyelamatkan, tapi untuk duduk bersamanya dalam sunyi.