endless torture

endless torture

  • WpView
    Reads 26
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Apr 21, 2022
"jangan kembali melangkah jika kau sudah ragu dengan jalan itu." "Tapi aku mencintaimu." "Jalan itu buntu untuk hatimu sementara jalan itu sangat panjang jika dilihat oleh mata mu." "Tuhan lebih sayang denganku ya" "Maaf menyusahkan dirimu selama ini cintaku tetap ada padamu meski ragaku sudah tidak bersamamu." Jika hari itu bisa di ulang Taeil berharap dia bisa mengubah keputusan kekasihnya. Taeil berharap jika saja Tuhan tidak terlalu menyayangi dirinya hingga membuat kekasihnya menderita. Penderitanya hilang dalam satu kedipan mata. Tapi setelah kedipan terakhir binar dan cahaya itu menghilang perlahan menyisakan kegelapan. Setelah kegelapan hujan pun ikut datang melengkapi kegelapan yang ada.
All Rights Reserved
#721
taeil
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Bulan Bintang
  • Eclipsed by Love
  • Langit Tak Bertemu Bumi
  • Mianhae Hyung || So Junghwan {SEDANG DIREVISI}
  • Our Sunset | Yeonseok x Soobin
  • Promise
  • DESTROYED
  • Because Of Rain [End]

Ia yang dijuluki Bintang, Skayara Bintang Adhiyaksa. Ia bukan langit yang dipuja, tapi serpih cahaya kecil yang berusaha tetap menyala di tengah gelap. Seorang penghuni pagi yang berjalan dalam sunyi, membelah dingin dengan sepeda motor renta yang kini lebih sering batuk daripada berjalan. Hidupnya adalah barisan luka yang diolesi senyum retak tapi tetap indah. Setiap hari ia menjamu waktu dengan aroma kopi dan kepulan harapan hidup. Tangannya menari di antara cangkir dan kerinduan yang diam-diam ia telan dalam hirupan pertama. Ia menyapa dunia dengan tutur lembut, walau isi hatinya dipenuhi tanda tanya: "Sampai kapan aku harus kuat?" Tak banyak yang melihat kehidupannya, tapi ia adalah puisi berjalan disusun dari kepingan lelah, dipoles oleh harap. Ia tak bersinar terang, tapi cukup gemerlap untuk diingat oleh langit yang pernah kehilangan bintangnya. Ia yang dinamai Bulan, Raespati Bulan Sadipta. Lelaki itu adalah senyap yang bersuara. Diamnya bukan karena tak peduli, tapi karena ia menyimpan terlalu banyak sakit yang tak sanggup diucapkan kata-kata. Ia tinggal di antara deru mesin dan debu jalanan, di mana suara knalpot adalah musik, dan peluh Tangannya kasar seperti jalanan rusak, tapi setiap gerakannya adalah sajak membenahi yang rusak, menyambung yang patah, menghidupkan yang mati. Bengkelnya kecil, nyaris tersembunyi oleh waktu, tapi hatinya luas, menyimpan matahari yang enggan terbit. Ia tak mencari dunia. Ia hanya ingin bertahan. Hidupnya adalah malam panjang yang ditemani bulan sabit: separuh terang, separuh gelap, namun tetap bertahan menggantung di langit. Dan dalam diamnya, ia berharap seseorang akan datang bukan untuk menyelamatkan, tapi untuk duduk bersamanya dalam sunyi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines