"Kapan kamu membawa calon menantu untuk Mommy?" tanya sang mommy, menyesap teh hijaunya.
"Mom, jangan bahas pernikahan dulu," Zyandra menghela napas.
"Kalau begitu, Mommy akan mencarikan calon menantu sendiri!" ancam sang mommy, lalu beranjak pergi.
"Hah, istri? Merepotkan!" gumam Zyandra kesal.
***
"Itu bukan urusanmu, Cia. Tapi jika kau ingin tahu, kau harus bermain denganku."
"Bermain?" tanya Cia, tidak mengerti.
"Ya, bermain," jawab Zyan, matanya berkilat-kilat. "Permainan yang berbahaya, tapi juga mengasyikkan. Permainan di mana pemenangnya mendapatkan segalanya, dan pecundangnya kehilangan segalanya." Cia terdiam, menatap Zyan dengan tatapan ragu.
***
"Selamat datang di duniaku, Cia," gumam Zyan, "Dunia yang penuh dengan rahasia, bahaya, dan... kematian."
***
Zyan, pria 29 tahun yang terjebak antara tuntutan pernikahan dari ibunya dan dunia mafia yang gelap, tak pernah menyangka akan menemukan pesona dalam diri Cia, gadis mungil yang mampu memikat hatinya. Namun, cinta mereka terjalin di tengah bahaya dan permainan mematikan. Akankah Zyan mampu melindungi Cia dari dunia yang mengancam, ataukah mereka akan terseret dalam permainan yang menghancurkan segalanya?
Jangan lupa ikutin terus ceritanya><
Di balik wajah dunia yang damai, tujuh pemuda menyimpan luka, kemarahan, dan dendam yang tak berkesudahan.
Zed, pemimpin dingin yang tak pernah ragu membunuh.
Zion, bagaikan api liar, brutal dan tak terkontrol.
Kalif, diam dan sadis seperti kematian itu sendiri.
Ishara, tengil, nyaring, dan menertawakan darah.
Darda, hacker pendiam yang mengintai dan menusuk dari balik layar.
Wallmond, beku tanpa emosi, hidup dalam kehampaan.
Famael, tampak lembut tapi menyimpan keinginan untuk menyiksa jiwa.
Mereka bukan sekadar sahabat. Mereka keluarga yang lahir dari kehancuran. Dibesarkan oleh dendam. Dipersatukan oleh tujuan kelam.
Namun, hidup mulai bergeser saat takdir mempertemukan mereka dengan tujuh gadis muslimah-perempuan sederhana yang hadir tanpa niat, tanpa senjata, tapi perlahan-lahan merobohkan benteng besi di hati mereka.
Almira tak pernah takut pada Zed.
Kamila mampu menahan amarah Zion tanpa satu tetes air mata.
Rahma menatap luka Kalif seperti ia ingin menyembuhkan, bukan menghakimi.
Afifah menantang Ishara dengan zikir, bukan teriakan.
Alya memahami keheningan Darda lebih dalam dari siapa pun.
Azizah mendengar Wallmond bahkan saat dunia membungkamnya.
Nabila menyentuh sisi Famael yang bahkan tak ia tahu masih hidup.
Di tengah misi berdarah, rahasia masa lalu mulai terungkap-mereka bukan hanya pelaku, tapi korban dari permainan yang jauh lebih besar. Dan saat cinta mulai tumbuh di tanah yang kering, mereka harus memilih:
melanjutkan dendam, atau menyelamatkan cinta yang membuat mereka merasa hidup untuk pertama kalinya.
Karena dalam hidup yang penuh kematian...
mereka hanya butuh satu hal untuk selamat: seseorang yang melihat mereka sebagai manusia.