Om Tiwat. Uh!!

Om Tiwat. Uh!!

  • WpView
    Reads 257
  • WpVote
    Votes 22
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadComplete Sat, Mar 12, 2022
"K- krub" ........... hanya itu, aku tak bisa bersuara, dan sudah ku bilang, tubuhku tidak bisa berbohong. langsung mataku menatap ke arahya dan dapat aku lihat matanya juga menatapku. dengan keberanian yang memang aku tutup-tutupi. aku menyentuh dadanya yang sedikit terbuka dan mencondongkan badanku ke arahya, dan tak lupa aku menyilang kedua kakiku yang kebetulan aku mengenakan celana yang pendek. aku bisa merasakan dia sedikit terkejut, namun itu haya sementara. karna tangan besarnya seketika berada di atas pahaku. ".... pikir akan membutuhkan waktu yang lama untuk meaklukanmu, ternyata semudah ini" ucapnya. owhhh teryata dia juga sudah tertarik dari awal dengan ku. tapi... "apa ....... pikir aku murahan?" ucap ku menantang matanya. aku tidak sedih apabila memang di anggap murahan. "Tidak, karna om tau, kau............. apa yang terjadi? cuss baca gaesssss. vote sebagai uang pajak. happy reading.
All Rights Reserved
#2
myblue
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • BITCH OF LOVE🔞 ( PoohPavel Short Story ) END
  • Is that Love?
  • One More Chance
  • Destiny Indonesia Version
  • Wrong Dream
  • MY BOS IS MY (HUSBAND)-(YIZHAN) (END)✔️
  • Fake's Lady
  • Forget me not ( KAGAKURO fanfic ) [COMPLETE]

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines