INNOCENT DAUGHTER

INNOCENT DAUGHTER

  • WpView
    Reads 2,493
  • WpVote
    Votes 302
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Oct 23, 2022
Farras tahu, setiap kali namanya dipanggil dengan nada dingin yang khas itu, artinya ia telah melakukan kesalahan. Dan tubuhnya tidak bisa menahan gemetar bila itu terjadi. "Farras, apa yang kamu lakukan?" "Manusia selalu didorong oleh rasa ingin tahunya bukan?" Wanita itu selalu melihatnya dengan tatapan matanya yang tajam. Seolah ada sesuatu yang dipikirkannya, dan itu seperti akan disampaikannya pada Farras. Tapi Farras tidak pernah menebak apa itu, sebab bukan rasa penasaran yang ada dibenaknya, hanya rasa takut dan sejenisnya yang demikian mengganjal. Tapi apa yang bahkan tidak bisa dia pungkiri adalah bahwa meskipun ini tidak menyenangkan, dia sendiri tertarik olehnya, oleh segala yang ditunjukkan oleh Fay terhadapnya. Dia telah merasakan kenyamanan yang aneh dan sekaligus rasa aman saat bersama wanita itu. Awalnya, Farras merasa seharusnya menemukan cara untuk menjauh, tetapi entah kenapa mereka seolah selalu terhubung. "Ara, saya awalnya ingin memanggil kamu begitu." Saat kata berikutnya diucapkan, itu seperti ditakdirkan bahwa mereka memiliki ikatan lain lebih dari sekedar yang diketahui Farras. "Kamu penting bagi saya, tidak peduli apapun yang terjadi, tidak ada seorang pun kecuali atas izin saya untuk menyentuhmu!" . Kisah ini tentang cinta, tapi bukan kisah percintaan yang biasa lalu lalang di depan mata. . Secara perlahan Fay memasuki kehidupan Farras dan seolah beranjak mengubah posisi menjadi bagian terpenting dalam hidupnya, mengalahkan mama, ayah, dan kakak-kakaknya. Bukan ia tidak merasa penasaran atau tidak terbersit keingintahuan akan hal itu dalam hatinya. Farras hanya tidak ingin memikirkan lebih jauh, ia hanya terbiasa memikirkan apa yang terjadi pada hari yang tengah ia jalani. Masih banyak hal yang menanti di masa depan, yang mungkin saja akan menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kecil yang terlintas di otak imutnya.
All Rights Reserved
#28
yeri
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Not Me & Not Mine
  • NEVER
  • MENYAKITKAN (Freya)
  • Little Princess [END]
  • 2 Tom And Jerry (END)
  • Complete (END)
  • My Bromance [18+] End
  • Hai, Kak! (END)
  • Mama! [✔️]
  • Maaf' (Revisi)

Tak ada kesalahan tanpa adanya sebuah perbuatan, begitu pula dengan kisah Zara dan Rafif-dua hati yang, entah bagaimana caranya, selalu kembali bertaut meski diwarnai begitu banyak perbedaan. Zara, seorang perempuan yang selalu berusaha memahami, menerima Rafif apa adanya, termasuk sifat kekanak-kanakannya yang sering kali membuatnya menghela napas panjang. Setiap kali dia menunjukkan sisi inner child-nya di saat-saat yang tak terduga, Zara tak bisa menahan diri untuk menyipitkan mata, menatapnya dengan ekspresi antara geli dan tidak percaya. "Kamu selalu bilang bisa menerima aku apa adanya, tapi tiap aku bersikap begini, ekspresimu langsung berubah," Rafif bersedekap, bibirnya mengerucut seakan protes. Zara mendesah pelan, menyilangkan tangan di dada. "Bagaimana tidak? Kadang kamu bisa bertingkah seperti anak kecil, bahkan di tempat umum," ucapnya, setengah gemas setengah tak habis pikir. Cinta mereka bukanlah kisah yang selalu berjalan mulus. Ia tumbuh dengan caranya sendiri-kadang seperti bunga liar yang mekar tanpa aturan, kadang seperti lukisan abstrak yang penuh warna namun sulit untuk didefinisikan. "Ambil sepatumu dan pakai, Rafif. Di tempat seperti ini pun kamu tetap saja menyusahkan," ujar Zara, matanya melirik ke arah kaki Rafif yang masih telanjang di lantai dingin. Rafif terkekeh kecil, tidak tergesa-gesa mengambil sepatunya. "Aku cuma menunggu kamu dulu sebelum pakai sepatu," katanya ringan. Zara menghela napas lagi. "Aku pergi sebentar beli makanan, bukan pergi selamanya," ia menyodorkan sesuatu pada Rafif. Sekejap mata Rafif berbinar begitu melihat apa yang ada di tangannya. "Wah! Es krim kesukaan kita! Aku mauu~" serunya penuh semangat, seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah. IG/aqieff_bhlwn Tiktok/elsyaqief

More details
WpActionLinkContent Guidelines