Dear, Mas Jodoh

Dear, Mas Jodoh

  • WpView
    Reads 30
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Mar 26, 2022
WpInfo
Fiction
Social Themes
"Kamu akan kesulitan mencintai orang yang belum selesai masa lalunya. Kamu akan berkorban banyak hal. Belum tentu juga hatinya berlabuh tepat sasaran. Jadi, saya sarankan cari orang yang sudah menyelesaikan masa lalunya." Alya terdiam menatap malam yang terlalu dingin untuk dinikmati. "Tapi saya akan berusaha membantu menyelesaikan masa lalu itu. Kamu percaya?" Alya menggeleng. Masa lalu ialah pijakan yang paling Alya susun rapih. Masa lalu ialah gerbong Alya untuk tetap berdiri tegak pada saat ini. Seribet apa sih masa lalu itu? Gak salah dong ikut masuk dalam kehidupan Alya, mari membaca sebelum men-judge si pecinta masa lalu. Happy reading, Ayang😍😅
All Rights Reserved
#10
meysa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Prenuptial Agreement
  • LDR || Lo Dan Rindu [END]
  • Tak Sejalan
  • setangkai mawar di musim dingin
  • HADIAH DARI LANGIT [END]
  • Eternal Love Of Dream [End]
  • FINDING CINDERELLA | ✔ | FIN
  • Lantunan Surah Asy-Syams
  • Alleya dan Dunia Novelnya (TERBIT)
  • Ku Pesan Cinta Lewat Do'a (Completed)

"Tya, kapan kamu akan menikah?" tanya sang ayah. "Nanti, Yah, kalau sudah ada jodohnya," jawaban ringan itu yang selalu menjadi andalan Adistya. "Iya kapan?" tanya kembali ayahnya yang sepertinya tak sabar menginginkan sang putri untuk segera menikah. "Sabar kali, Yah, toh jodoh gak akan ke mana." "Jodoh memang tidak akan ke mana, tapi kalau gak ke mana-mana kapan dapat jodohnya." Kutipan itulah yang selalu ayahnya ucapkan. Membuat Adistya memutar bola matanya bosan. Ayahnya itu gemar menanyakan perihal jodohnya apalagi mengingat usianya yang sudah menginjak angka 27, usia yang sudah cukup matang untuk membina rumah tangga sampai ayahnya gemar sekali mencarikan jodoh yang untungnya tidak pernah berhasil. Adistya lelah begitupun dengan sang ayah, sampai akhirnya sebuah kesepakatan mereka buat untuk perjodohan terakhir Adistya. Kebebasan sudah ada di depan mata, tapi harapan itu harus gagal karena dengan lancangnya kepala Adistya mengangguk mengkhianati hatinya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines