19 parts Ongoing Malam itu, Aurora mengetukkan jarinya di meja sambil menunggu ronde berikutnya dimulai. Layar monitornya dipenuhi sorotan neon khas Valorant, suara tembakan dan langkah kaki menggema di headset.
"One enemy remaining," suara announcer terdengar.
Aurora menggerakkan crosshair-nya dengan hati-hati. Dari sudut matanya, ia bisa melihat rekan satu timnya-"NateX"-bergerak cepat ke arah musuh terakhir.
Dor!
"Nice one!" suara NateX terdengar di voice chat.
Aurora tersenyum kecil. Mereka sudah lama bermain bersama, tapi tetap saja terasa menyenangkan setiap kali menang sebagai tim. Entah bagaimana, mereka selalu bisa memahami gaya bermain masing-masing, seolah sudah kenal bertahun-tahun. Padahal, mereka hanya tahu satu sama lain lewat nickname di game.
Ting!
Sebuah pesan masuk di chat pribadi.
NateX: "Eh, kalau kita ketemu di dunia nyata... kita bakal tetap sekompak ini nggak, ya?"
Aurora menatap layar. Jantungnya berdebar, meskipun ia tak tahu kenapa. Mereka hanya partner di game-tak pernah bertanya nama asli, tak pernah membahas kehidupan di luar layar.
Tapi untuk pertama kalinya, ia bertanya-tanya... siapa sebenarnya "NateX" ini?