Evening Tea

Evening Tea

  • WpView
    Reads 40
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Oct 10, 2022
Sebagian orang suka meminum teh sambil menikmati matahari terbenam. Anak senja? Begitukah kata mereka pada manusia sejenis kita? Namun, bagi saya, kita cuma manusia tanpa memiliki embel-embel apapun. Manusia yang bernapas dengan oksigen dan tidak bisa bertahan hidup tanpa meminum cairan yang namanya dihidrogen monoksida. Manusia, si makhluk sosial yang terkadang menaruh rasa tidak suka ketika berkumpul bersama manusia lainnya. Iya, kita adalah manusia, satu-satunya makhluk yang bisa menghancurkan alam di bumi hanya dengan industri dan teknologinya. Di sini kita bakal mengagumi keindahan alam semesta, menengok ke dalam masyarakat dan terkadang cuma belajar menjadi seorang manusia yang sesungguhnya. Mari berbincang-bincang dan berdiskusi dengan saya.. ah, atau, kamu bisa mampir ke sini, kemudian membaca tanpa bertegur sapa juga tidak apa-apa. Axce di sini, selamat datang di Evening tea.
All Rights Reserved
#5
obrolan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "Biarlah: Sebuah Kisah Tentang Sunyi dan Luka"
  • MEMANUSIAKAN MANUSIA (TAMAT)
  • Kenapa Harus Aku?! || Kim Sunoo [END]✓
  • KOS UJUNG GANG
  • Untuk Ayah
  • LANGIT JINGGA (TAMAT)
  • BECAME ANTAGONIST
  • Dream Launch Project
  • RISE OF THE K (Completed)

Hidup adalah panggung, dan setiap orang mengenakan topeng. Beberapa topeng begitu sempurna hingga bahkan pemakainya lupa wajah aslinya. Tawa bisa menjadi tirai, senyum bisa menjadi ilusi, dan kata-kata "Aku baik-baik saja" bisa menjadi kebohongan yang paling menyakitkan. Ini adalah kisah tentang seseorang yang menjalani hari-hari seperti biasa, seperti semua orang lainnya. Ia tertawa bersama teman-temannya, membantu keluarganya, mengisi waktunya dengan hobi, dan menjalani hidup seperti yang seharusnya. Tapi di balik semua itu, ada kehampaan yang tak terjelaskan, ada luka yang tak terlihat, ada pertanyaan yang tak pernah terjawab. Bagaimana rasanya hidup tanpa benar-benar merasa hidup? Bagaimana rasanya berjalan di dunia ini, tetapi tidak pernah benar-benar berpijak? Dan bagaimana jika, suatu hari, semuanya terasa terlalu berat untuk dilanjutkan? "Biarlah" bukan hanya sebuah cerita. Ini adalah perjalanan di antara cahaya dan kegelapan, kebahagiaan yang palsu dan kesedihan yang nyata, antara eksistensi dan kehampaan. Ini adalah kisah yang mungkin terlalu dekat dengan kenyataan-dan mungkin, terlalu sulit untuk diabaikan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines