Rumah Kedua Kami
Di sebuah rumah sederhana yang disulap menjadi ruang belajar penuh kasih, sekelompok anak berkebutuhan khusus menemukan tempat yang akhirnya bisa mereka sebut sebagai rumah kedua.
Sekolah Kombel Diva Suruh bukanlah sekolah yang megah. Dindingnya dipenuhi gambar-gambar sederhana, rak bukunya tidak terlalu banyak, dan halaman depannya hanya ditumbuhi beberapa pohon yang selalu memberi keteduhan. Namun, di sanalah anak-anak belajar bahwa setiap langkah kecil adalah sebuah keberanian.
Kak Dinar, Kak Dimas, Kak Rere, Bu Ida, Pak Widi, Pak Gunawan, Pak Kris, Pak Darsu, Bu Juju, Tante Femi Queen, Bunda Yani, Ayah Deden, serta seluruh guru dan relawan berusaha mendampingi setiap anak dengan penuh kesabaran. Mereka percaya bahwa setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda, tetapi semuanya berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh.
Di antara tawa, tangis, tantrum, pelukan, dan senyum sederhana, Aini, Afifah, Davin, Rizki, Oliv, Alfa, Dwi, Juhdi, Naya, Aulia, Darul, Naufal, Rahma, Rasya, Nensy, Nabila, dan Aura perlahan menemukan keberanian untuk mengenal dunia.
Rumah Kedua Kami adalah kisah tentang harapan, keluarga yang tidak selalu terikat oleh darah, serta cinta yang hadir melalui kesabaran. Sebab terkadang, rumah bukan hanya tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana seseorang diterima apa adanya.