Secret Love Song (On Going)

Secret Love Song (On Going)

  • WpView
    Membaca 19
  • WpVote
    Vote 0
  • WpPart
    Bab 2
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Min, Mar 13, 2022
Cantik, mandiri, bertalenta. Tampak sempurna bukan? Tapi jika dilihat lebih dalam lagi, dia tak pernah berkencan dengan siapapun. CATAT! TIDAK PERNAH BERKENCAN DENGAN SIAPAPUN! Bayangan lulus dan menjadi wisudawan terbaik benar benar seperti ada di depan mata. Rasanya sangat tidak sabar untuk menyudahi dan menyambut gelar baru untuk nama belakang. Apa yang dibayangkan orang lain ketika lulus kuliah nanti? Pekerjaan? Atau hal lain? Sepertinya hanya dia yang membayangkan kebebasan dunia penugasan. Ah rasanya sangat ingin sekali cepat lulus. Sarjanaa tunggu akuuu!!! -Cassania Reanilda- *** Apa yang kalian bayangkan dengan memiliki gelar baik dan posisi yang tinggi? Kaya? Mungkin. Senang? Tidak! Tolong berhenti untuk naif. Dunia tidak semanis itu. Masih banyak tebing lebih tinggi lagi. Bukalah matamu, dan kerjakan sekarang juga! -Thomas Alfredo-
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#33
study
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • 1, Bunga di Taman Hati
  • ZATARFA (Tamat)
  • Crazy Guy Vs Sassy Girl ( ZEESHA )
  • Kanao Love Story || END
  • SCRIPTSHIT (TAMAT)
  • SEA AND MOUNTAINS ( ZEESHA )
  • Only Hope
  • Alexandra of the world mafia
  • BAD?! It's Me!{END}

"Fabian..." Mami menatapku. "Yakin, Ian mau kalau dijodohin?" "Kalau semua ikhlas, aku yakin, Mi." Aku terus menatap mata ibuku. "Sayang, kamu sudah dijodohkan sejak sebelum kamu lahir." Aku tersentak. Tergugu tanpa kata. Tanpa bisa kucegah, aku memasang wajah bodoh. "Cerita singkatnya, jodoh Ian ini cucu teman Opa." "Gimana bisa?" Aku masih memasang wajah bodoh itu. "Waktu Opa dan temannya Long March Divisi Siliwangi, mereka berdua terpisah dari rombongan, lalu kena ranjau darat. Pas masa kritis kayak gitu, mereka sepakat mau ngejodohin anak-anaknya atau cucu-cucunya." Mami membuka tasnya. Mengambil selembar amplop lalu menyodorkan amplop tersebut ke arahku. "Ini foto calonnya." "Aku setuju, Mi." Aku tetap menatap wajah Mami. "Ian nggak lihat dulu anaknya?" "Aku yakin sama pilihan Mami. Apalagi ini kesepakatan semua." "Ian lihat dulu deh..." Meski merasa tak butuh melihat wajah yang tersembunyi di balik itu, tetap saja akhirnya kubuka amplop tersebut. Haahhh??? "Mami...??" Kupandang wajah Mami dengan wajah bodohku yang terbaik, yang terbodoh. "Nggak salah nih, Mi...?" "Kenapa? Ian berubah pikiran?" "Masih ABG beginiii...!!!" "Oh... itu foto dia masih kelas X." "Sekarang?" "Balik foto itu," perintah Mami tegas. Perlahan kubalik foto itu. Kembali aku terkesiap. "Mami...?" Kupasang wajah bodohku sekali lagi. "Ini beneran?" "Ya benar lah." "Ini mahasiswa aku, Mi.... Sekarang tingkat satu. Tahun depan pasti masuk kelas aku." "Sepertinya begitu," jawab Mami maklum. "Ada masalah dengan itu?" Aku tergugu. Namun aku merasa harus bertanya. "Mi, dia mau sama aku? Dia mau dijodohin sama dosennya?" "Nah, pertanyaan bagus." Mami menepuk bahuku. "Dia sama sekali tidak tahu soal perjodohan ini. Jadi sekarang bola di tangan Ian. Kamu mau bawa ke mana bolanya. Terserah." Haaahhh??? ***

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan