Jejak Berdebu

Jejak Berdebu

  • WpView
    Reads 344
  • WpVote
    Votes 84
  • WpPart
    Parts 19
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 2, 2022
WpInfo
Non-Fiction
Bima Setiawan lahir di pelosok desa yang jauh dari kata maju. Masa kecilnya adalah mencari botol bekas dan dijual untuk biaya sekolah. Berasal dari keluarga yang miskin, ternyata tidak membuat Bima Setiawan menyerah untuk meraih cita-citanya. Anak itu hanya tinggal berdua bersama neneknya di rumah yang sederhana dan mini. Bersama sahabatnya, Salman, Bima terus berusaha agar mimpimya menjadi kenyataan. Bukan hanya tentang kehidupan, bahkan soal cinta pun Bima harus merasakan pahitnya. Tentu saja di dalam hidup, kita perlu adanya sosok cinta sejati. Setelah semua usaha dan doa yang ia lakukan, Bima berharap Tuhan akan berpihak pada dia dan mengubah nasibnya. Namun sayangnya, mengubah keadaan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Akankah Bima Setiawan pasrah dan hanya menyalahkan nasib? Atau mungkin akan muncul keajaiban dari Tuhan yang mulai berpihak padanya?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kara: I Left God at The Door
  • Nafisa (TAMAT)
  • SEWINDU
  • ABHIPRAYA: Not Me, But It's Me (Sudah Terbit)
  • Magnificent Journey [COMPLETED]
  • She, ADARA QIANA
  • FLAMBOYAN

Salahkah mereka yang mencoba berpaling? Ataukah mereka memang sudah dibutakan oleh kenikmatan duniawi? Lenaan yang memikat membuat siapa pun rela meninggalkan Tuhannya meski itu hanya di depan pintu. Ambar telah melakukannya. Dia rela meninggalkan Tuhan di depan pintu dengan dalih untuk mengobati luka hatinya. Lalu, bagaimana Ambar harus mempertanggungjawabkan tindakannya itu? Saat mencoba menebus kesalahannya, tamparan nasib membuatnya harus menyaksikan anak-anaknya tewas mengenaskan di tangan anak tertuanya. Mungkinkah ini teguran karena telah meninggalkan Tuhan? Tidak sampai di situ kegetiran hidup yang harus dia rasakan. Anak terakhir Ambar, Kara, kembali mengulang kesalahannya. Saat gadis lugu itu mencoba kembali mengais cinta kasih Tuhan dengan beban turunan yang dia pikul dari orang-orang yang telah meninggalkannya, terpaan badai kehidupan kembali memporakporandaan batinnya. Dapatkah Kara kembali ke jalan yang Tuhan kehendaki dan menjadi hamba yang taat?

More details
WpActionLinkContent Guidelines