Abcdefg

Abcdefg

  • WpView
    Reads 28
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Nov 10, 2024
"Lo itu kayak bunga bangkai" ujar Rafa. "Hah? Ngomong apa lo? Gak jelas anjir, lo kali yang kayak bunga bangkai. Emang gila nih cowok" kesal Hani "Ck...diam dulu anjir, lo kayak gak pernah digombalin aja. Ngerusak suasana banget setan" ujar Rafa kesal. "Yah lo sih samain gue sama bunga bangkai, lo pikir gue apaan" kesal Hani. "Lo emang kayak bunga bangkai, soalnya lo langka...eaakkk" heboh Rafa. Membuat Hani melongo. Sumpah, gombalan model apaan yang kayak gitu. Gak ada romantis-romantisnya. *** Udah itu aja deh, gak tau mau kasih apa lagi. Intiny kalau kalian penasaran, boleh dibaca aja yah gaes. Aku enggak maksa kok, terserah kalian aja. Mangats jalani kehidupannya. Ingat kita masih jadi beban😉
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Antara Pagar dan Perasaan
  • Love & Enemy
  • GAREN With Hate (End)
  • ONLY YOU
  • ALEAGAS [END]
  • AIRIS
  • GUNFA
  • RAVASYA [END]
  • Imaginary Boyfriend
  • 7 hari menggapai cintanya

Arvino Reyhan Dirgantara - atau Ehan, dikenal sebagai cowok kalem, sedikit dingin, dan susah ditebak. Sementara Azalea Vianita Anjani - atau Aza, cewek ceria tapi gengsian, selalu punya jawaban sarkas untuk semua hal yang berbau romantis. Mereka duduk di kelas yang sama. Satu sekolah. Satu lingkungan. Bahkan... satu gang rumah. Hubungan mereka? Jauh dari kata akrab. Saling lempar pandangan malas tiap papasan. Saling sindir kalau disuruh kerja kelompok bareng. Dan saling tutup telinga soal gosip yang nyebar soal "cocok-cocokan" dari teman sekelas. Tapi segalanya berubah saat hujan turun deras di suatu sore, dan satu payung mempertemukan mereka di bawah langit abu-abu. Sedikit demi sedikit, percakapan yang awalnya dingin mulai menghangat. Tatapan yang awalnya biasa, jadi terasa beda. Masalahnya? Mereka terlalu gengsi untuk jujur soal perasaan masing-masing. Di antara pagar rumah yang hanya dibatasi semak kecil, dua hati diam-diam tumbuh rasa - meski belum siap untuk mengakuinya. ---

More details
WpActionLinkContent Guidelines