Kamu dan Semestanya

Kamu dan Semestanya

  • WpView
    Reads 264
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jul 6, 2026
Iqbal, Cerita ini adalah tentangmu. Tentang seseorang yang awalnya biasa saja, lalu perlahan menjadi alasan mengapa aku tersenyum lebih banyak. Tentang seseorang yang tanpa sadar mengajarkanku bahwa dicintai dengan tulus adalah perasaan yang begitu menenangkan. Aku tidak tahu sampai sejauh apa perjalanan kita nanti. Tapi kalau semesta mengizinkan, aku ingin tetap berjalan bersamamu. Menjadi tempat pulangmu, teman bertumbuhmu, dan orang yang akan selalu mendukung setiap langkahmu. Kalau suatu saat kamu lelah, bacalah kembali cerita ini. Karena di setiap halaman, ada aku yang selalu memilihmu, lagi dan lagi. Dan jika aku boleh meminta sesuatu pada semesta, aku hanya ingin satu hal yang sama seperti hari ini: tetap ada kamu di dalamnya. Terima kasih sudah hadir, terima kasih sudah bertahan, dan terima kasih karena sudah menjadi Iqbal yang aku kenal dan aku sayangi. Karena bagiku, di antara banyaknya manusia yang ada di dunia, kamu adalah rumah yang paling ingin aku tuju. - Dari seseorang yang selalu menemukan semestanya di dalam dirimu.
All Rights Reserved
#82
06
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pikul Pilu Pada Pulangmu
  • 𝑳𝒊𝒓𝒊𝒌 𝑳𝒂𝒈𝒖 : 𝐸𝑁𝐻𝑌𝑃𝐸𝑁 巛ˢⁱⁿᶜᵉ₂₀₂₀
  • Jerih.luka
  • Kyara And Someone She Meet Online
  • You Were Never Made for Me
  • Cerita Seks Bapak Kos Mesum Menggerayangi Tubuh Montok Mona
  • COOL BOY AND NEET CRAZY GIRL  [fatqeel]
  • Dua Pilihan(Deva Kiara)
  • Bossy Messy
  • The Child He Left Behind (FOXYPAN)

Apa yang sebenarnya manusia inginkan? Apa yang sebenarnya lahir dari kembara tanpa tuju? Menyibak kekosongan, enggan berhenti. Satu dua kali, aku pun melakukannya. "Di mana rumahmu? Apa kamu mengunjunginya akhir-akhir ini?" Semilir mengantar gembiramu pada saat gelisah sejak kemarin menjemputku. Tapak tidak mengambil jeda. Pun bibir bergetar, melengkung pahit. "Tidak. Rumahku tidak dapat aku temukan." Rumahmu mungkin bukan lagi rumah yang hangat. Terlalu terkepul tangis, dusta, dengki, dan segala lara yang dibawa seorang diri. Tanpa kenal lelah meski sebenarnya ingin menyerah. Bersama perasaan-perasaan ini, kamu akan menemukan tempat bersandar. Bersama apa pun yang tertulis di sini, mari temukan kembali dirimu yang mungkin telah lama lupa jalan pulang. *** Seri Dua dari antologi puisi FOUR ©2026

More details
WpActionLinkContent Guidelines