Potret

Potret

  • WpView
    Reads 283
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 18, 2025
POTRET |Antologi cerpen moral oleh Zeen Mou| 📌 Beberapa cerpen diambil dari kisah nyata --------------------------------------------------------------------- Ada kalanya untaian aksara tak mampu mewakili pahitnya luka, pun lebarnya tawa tak akan selamanya bisa mewakilkan bahagia. Entah sampai kapan kita memilih untuk memendam semua rasa yang kita pikir biasa hingga akhirnya menjelma menjadi penyesalan luar biasa. Angin akan terus membawa pergi debu-debu kenangan, selagi bisa, abadikanlah seseorang itu dalam potret yang tak akan pernah lenyap walau foto kertas yang kau pajang sudah hilang tertelan rayap. Selamat berkelana menjelajahi masa penyesalan, kebahagiaan, kesedihan, juga kerinduan yang tak bisa ditembus oleh lewatnya waktu. --------------------------------------------------------------------- NB: Cerita ini Zeen tulis semata-mata sebagai sarana buat kita semua agar sama-sama belajar lebih peka kepada orang-orang di sekeliling kita. Hope u like it, guys🌼
All Rights Reserved
#211
moral
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • RUANG DEPRESI [ END ]
  • Kita Yang Tak Pernah Baik-Baik Saja (TAMAT)
  • Cerpenpedia
  • Zenna Story
  • Savero Archandra || Haechan || END
  • Let Me Love You Longer
  • Kumpulan Cerpen Cinta
  • Sheina (Terbit)
  • Maaf, Aku Terlambat END✅
  • Inside Me [END]

"Tolong ceritakan padaku, bagaimana rasanya mempunyai keluarga yang utuh? Tolong jelaskan padaku, bagaimana rasanya hidup tanpa setitik luka yang menerpa! Aku ingin bahagia seperti mereka! Walau hanya satu kali saja!" Cinta dan Luka sama-sama Zeline rasakan, tetapi luka itu hadir lebih unggul daripada rasa cinta yang nyata, bukan hanya omong kosong tidak berguna saja. Ruang Zeline sepi, ruang Zeline kelam, bantu Zeline keluar dari ruang depresi. Zeline tidak pernah merasakan, bagaimana rasanya disayang, dimanja, dan diperhatikan. Hari demi hari, detik demi detik, yang Zeline nanti yaitu perdamaian kedua orang tuanya. Zeline merasa banyak kurangnya, Zeline menginginkan ketulusan yang sebenarnya, bukan hanya kata permainan perasaan saja. Sejak kecil, beranjak remaja Zeline menyaksikan perseteruan itu masih saja terasa. Rasa sesak terasa di dalam dada, seketika atmanya mulai merasa bahwa diri ini tidak ada apa-apanya. Bahkan sampai nafas berakhir sekalipun, Zeline akan terus berusaha untuk menerimanya, sampai Sang Maha Kuasa berkata. "Waktunya beristirahat dengan tenang." Ditulis oleh: CALGHIFARI Start: 25 November Finish: (?)

More details
WpActionLinkContent Guidelines