Potret

Potret

  • WpView
    Reads 283
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 18, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
POTRET |Antologi cerpen moral oleh Zeen Mou| 📌 Beberapa cerpen diambil dari kisah nyata --------------------------------------------------------------------- Ada kalanya untaian aksara tak mampu mewakili pahitnya luka, pun lebarnya tawa tak akan selamanya bisa mewakilkan bahagia. Entah sampai kapan kita memilih untuk memendam semua rasa yang kita pikir biasa hingga akhirnya menjelma menjadi penyesalan luar biasa. Angin akan terus membawa pergi debu-debu kenangan, selagi bisa, abadikanlah seseorang itu dalam potret yang tak akan pernah lenyap walau foto kertas yang kau pajang sudah hilang tertelan rayap. Selamat berkelana menjelajahi masa penyesalan, kebahagiaan, kesedihan, juga kerinduan yang tak bisa ditembus oleh lewatnya waktu. --------------------------------------------------------------------- NB: Cerita ini Zeen tulis semata-mata sebagai sarana buat kita semua agar sama-sama belajar lebih peka kepada orang-orang di sekeliling kita. Hope u like it, guys🌼
All Rights Reserved
#264
spritual
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sudut Luka Nazea
  • Psikopat Digital? [End]
  • Maaf, Aku Terlambat END✅
  • Let Me Love You Longer
  • LENGKARA
  • Cerpenpedia
  • DEPRESSION
  • Kita Yang Tak Pernah Baik-Baik Saja (TAMAT)
  • REGRET [END]

"ketakutan terbesar seorang anak adalah perpisahan orang tuanya. Kehilangan mama dan papa sama halnya dengan kehilangan seluruh napas. Enggak ada mama sama papa rasanya sunyi dan hampa, rasanya berkali-kali lipat lebih sakit dari apapun. Dunia juga terasa sudah tidak berarti." ~Queenza Nazea Azalea ˚₊‧꒰ა☁️☁️☁️໒꒱ ‧₊˚ Di ajarkan melangkah, meski tertatih-tatih dan berujung jatuh. Di latih menapaki tangga meski berulang kali terhenti karna lelah. Bagi nazea, hal yang paling menyedihkan adalah ketika dihadapkan dengan kehancuran keluarga. Nazea benci perpisahan. Karena nazea tidak suka di tinggalkan. Nazea benci sendirian, karena nazea kesepian. Namun, apa yang sudah retak, akan tetap pecah. Pada akhirnya, meskipun nazea tidak suka, nazea harus menerima. Ada yang mengangkat tangan tinggi-tinggi seraya menjerit tak sanggup, ada yang menyembunyikan kepedihan sekuat mungkin sembari terus menerus mengulas senyum. Karena hanya diperuntukkan dua pilihan, bertahan atau menyerah? Atau lebih tepatnya, mampukah berdiri di atas ubin keikhlasan? "lagi, dunia kembali mempermainkan hidupku. Namun, sampai kapan?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines