Main character

Main character

  • WpView
    Reads 13
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 17, 2022
¤ PROLOG Aku tidak menyangka akan hal ini. Bagaimana bisa aku ditolak seorang nathan yang sering memperlihatkan rasa sayang dan rasa pedulinya kepadaku?! Mengapa rasanya sangat kecewa. Aku tau, kita hanyalah sebatas teman yang dimana salah satu dari kita melibatkan perasaan. Ya, sudah jelas itu aku. Ini memang salahku dalam melibatkan perasaan. Tapi ini juga bisa dibilang salah nathan. Mengapa dia terus menunjukan rasa sayang dan pedulinya? Sangat menyebalkan! Aku sangat tidak terima. Bisa-bisanya dia secepat itu memiliki pacar? Jujur saja pacarnya sangat cantik dan melengkapi tipe nathan. Pada awalnya hubungan kita baik-baik saja. Bahkan aku dikenalkan kepada pacarnya. Seiring jalannya waktu. Hubungan aku dan pacarnya sangatlah bertolak belakang dengan saat awal-awal kita berkenalan. Ya. Karena hal itulah hubungan kita jadi berubah. Dan, benar saja, nyatanya aku bukan pemain utama dalam kisah ini.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • TEOLOGI CINTA
  • Cinta Untuk Sahabat
  • BEST OF US - TERBIT CETAK
  • MY PERFECT BOY [COMPLETED]
  • (End) Ketika Hanya Hati yang Saling Bicara
  • When Love is Breaking
  • Prema Sutram [Completed✔️]
  • Bukan Istri Bayaran(End)
  • Oh, My CRUSH! (TAMAT)
  • Oddly Coupley (Complete)

Memilih jodoh tak seperti melempar dadu. Aku sudah super hati-hati, ketika akan memutuskan Ghani menjadi suamiku. Tetapi Tuhan punya rencana lain. Ketika Ghani dalam keadaan tak berdaya, koma dan amnesia. Aku jadi berpikir ulang. Semakin tak tega untuk mencampakkan begitu saja. Aku tak tahu, apa ini cinta atau bukan. Yang jelas rasa itu hadir mengikat hatiku. Ghani bagiku saat ini tak lagi seperti pakaian. Jika tak cocok, aku mengganti yang lain.Bahkan, hari demi hari aku tak ingin jauh darinya. Aku tak ingin sewaktu-waktu jika ia dipanggil-Nya, aku luput dari sisinya. Terkadang aku tak mengerti banyak hal tentang diriku sendiri saat ini. Sejak Ghani bernasib naas, aku merasa berdosa besar dan sulit untuk memaafkan diriku atas niat burukku dulu pernah menuntutnya bercerai. Kini, justru sebaliknya, aku seperti telah jatuh cinta untuk kedua kalinya, tanpa syarat, sampai tertawan, hingga berserah tanpa bisa melawan. Aku mengizinkan hatiku mengalir bersama keterbatasannya, tanpa alasan jelas, bahkan cenderung absurd. Ada rasa kasihan dan iba yang luar biasa. Seperti gaya percintaan kakek nenek yang telah menua dan renta. Terkadang kuberpikir apakah hubungan suami istri seperti ini yang ideal? Tak mudah lekang oleh pancaroba. Dibanding yang didasari hitungan untung-rugi dengan mengatasnamakan cinta? Yang tak kumengerti sampai saat ini, mengapa aku semakin takut kehilangan Ghani? Sampai aku tak mampu lagi mengindetifikasi perasaanku ke Ghani, apakah aku mencintai atau mengasihani?

More details
WpActionLinkContent Guidelines