"Believe in Love"

"Believe in Love"

  • WpView
    Reads 409
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureComplete Mon, Apr 18, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Aku melirik jam tanganku. Pukul sembilan lebih tiga puluh menit, dimana acara seharusnya mulai pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Mungkin aku terlalu bersemangat dan ingin tampil maksimal , karna ini pertama kalinya aku membawakan siaran langsung untuk acara musik di salah satu stasiun televisi. Terdengar sorak sorai keramaian para penonton yang sudah berada di depan panggung untuk menyaksikan para idola mereka, dari backstage dimana aku menunggu dan bersiap-siap banyak sekali para penyanyi juga model-model yang berlalu lalang untuk mempersiapkan diri sebelum mereka tampil . Dari tempat aku bersiap aku mulai cemas dan juga gugup karna aku harus bisa menghibur dan membawa acara dengan baik . Wangi parfum para pengisi acara pun mulai tercium di backstage, aroma parfum yang sangat lembut seperti bunga sangat menyengat di hidungku seakan wangi itu terasa dekat. Aku berusaha mencari tau dari mana wangi itu berasal tapi aku tidak menemukannya karna sangat banyaknya para pengisi acara saat itu di belakang panggung. Tiba saatnya aku membawakan acara dan mulai memanggil satu persatu bintang tamu yang hadir pada hari ini . Dan ketika aku mulai memanggil penyayi pendatang baru yang akan tampil, hidungku mulai mencium kembali wangi parfum yang sangat menyengat itu yang sangat dekat sekali.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • My Little Monster - Completed
  • Friend's Diary I
  • MY PRIVATE IDOL (End)
  • Don't Go Away
  • KRONOGRAM (END)
  • MY FIRST LOVE STORY
  • Belum Siap
  • Send My Love

Mata itu tiba-tiba terbuka dan menatapku. Langsung ke manik mataku. Aduh, copot deh ini jantung. Tali mana tali, buat ikat jantungku biar nggak jatuh. Hiks tolong.... "Kamu jangan pergi, temani aku disini," ucapnya pelan lalu memejamkan matanya lagi. "Hah? Mm... iya," gumamku sambil mengangguk pelan, meski ia tak melihatnya. "Kakak kenapa mabuk?" tanyaku memastikan apa ia bisa di ajak berbicara dengan normal. Lagi pula orang mabuk biasanya akan berkata jujur. Ku pikir dia ada masalah, meski jahat sih jika mendengar curhatan orang yang sedang mabuk, sedangkan aslinya ketika sadar ia akan memusuhiku lagi. Ilsya hanya tersenyum dalam tidurnya. Lantas tak lama bibirnya tiba-tiba melengkung kebawah, terlihat cemberut. Aku nyaris tersedak liur menahan tawa melihat ekspresi wajahnya yang dapat berubah-ubah dengan sendirinya. "Aku nggak suka liat kamu dengan orang lain." Jawabnya dengan raut wajah yang masih sedih. WHAATT?!! Ng-nggak suka, aku dengan yang lain? Sialan Monster ini, meski dalam keadaan mabukpun dia masih bisa membuatku grogi. "Maksud kakak apa?" tanyaku penasaran. "Aku suka kamu, bodoh!" jawabnya lantang, terdengar jelas di telingaku. Jedaaaaaaar...... Siapa yang sangka jika cinta bisa hadir dari rasa benci, dari caci, dari maki. Hinggi bersemi dalam hati tanpa bisa dipungkiri. Cinta ya cinta, tak memandang status, tak mmandang harta, derajat, ras, agama, dan jenis kelamin. Jika cinta telah menancapkan panahnya, siapapun takkan mampu menampiknya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines