Rain Jelang Ramadhan

Rain Jelang Ramadhan

  • WpView
    Reads 723
  • WpVote
    Votes 106
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 22, 2022
Menceritakan kisah Rain, seorang remaja berusia 15 tahun, yang harus merasakan pedihnya kehidupan. Di usianya yang sudah memasuki masa remaja, yang harusnya didampingi oleh kedua orangtuanya, kini ia harus mengemis waktu kepada kedua orangtuanya. Sungguh miris bukan? "Rain gak butuh uang Daddy sama Mommy! yang Rain butuhkan cuman waktu dari kalian!" "Rain! turunkan nada bicara mu! kita sibuk kerja juga untuk masa depan kamu!" "BUAT MASA DEPAN RAIN? KALIAN YAKIN? ASAL KALIAN TAHU YA, RAIN GAK PUNYA MASA DEPAN! BAHKAN RAIN GAK TAHU BESOK RAIN MASIH BISA BERNAFAS ATAU NGGAK." "Rain sakit...Rain sakit..." Semua yang ada disana tertegun mendengar perkataan Rain. Mau tahu kisah soal Rain? Ayok mampir! Jangan lupa vote dan komen kalau kalian suka ❤️ ⚠️ Cerita hasil imajinasi ku sendiri! ⚠️ Area Brothership and Family! bukan b×b! ⚠️ Jangan plagiat!! Hargai karya orang! Start : 20 Maret 2022 Finish : -
All Rights Reserved
#608
kanker
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Broken melodies
  • NOISY SOUL [Ongoing]
  • Possessive Badboy [END]
  • NYCTOPHILE [END]
  • My Lovely (TAMAT)
  • Raina Story
  • Sehari Untuk Selamanya
  • Maaf Dari Julian - Park Jisung [END]

Kepada siapa kami harus bercerita? Pada Bapak dan Ibu yang sibuk menata masa depan, atau pada dunia yang tak pernah benar-benar mendengar? Pada akhirnya, kami hanya punya satu sama lain, meski seringkali tak tahu cara berbagi beban. Ini tentang kami- Tentang pertemanan yang tak selalu sempurna, tentang kata-kata yang tak selalu terucap, tentang luka yang ditutupi tawa, dan tentang bahu yang tetap ada saat semuanya terasa berat. Kami berjalan, meski arah sering kabur. Kami tertawa, meski ada yang ingin ditangisi. Kami bertahan, bukan karena kuat, tapi karena kami tak ingin menyerah sendirian. Hello, everyone! Ini aku buat sebagai bentuk perpisahan... maybe? Gak tahu juga, yang jelas aku cuma ingin menulis sesuatu yang bisa jadi kenangan tentang masa SMA. Diharapkan keaktifan pembaca untuk vote dan komentar, ya! Biar cerita ini makin hidup, aku butuh pendapat kalian semua. Ini murni dari pikiranku sendiri, no plagiarisme! Jadi, setiap kata yang kalian baca adalah hasil dari ingatan, pengalaman, dan imajinasi yang aku tuangkan. Bantu target 20K, dong! Let's make this story worth remembering. ✨

More details
WpActionLinkContent Guidelines