Aku, Si Aneh

Aku, Si Aneh

  • WpView
    LECTURES 4
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Chapitres 1
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication mar., mars 22, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Kehidupan manusia selaku makhluk hidup bersosial membuatku menjadi manusia yang sangat mencintai kehidupan dan pertemanan. Pertemuan demi pertemuan selaku sarana untuk berkomunikasi membuat ku jadi anak yang lebih terbuka diruang lingkup masyarakat maupun sekolah. Lantas mengapa saat berada dirumah, aku berubah menjadi anak yang sangat sulit untuk berhubungan dengan keluarga ku ? dimana mereka adalah orang-orang terdekat, yang mempunyai ikatan erat dengan kehidupan ku sehari hari. Cerita ini hanya akan membahas tentang diriku, si Aneh yang beranjak dewasa. Cukup ikuti dan berilah saran terhadap anak remaja yang aneh dan naif ini.
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • You're Here, But Not For Me
  • Walk Alone
  • Slow Days (FIN)
  • LUMPUH
  • Berbisik Ke Bumi
  • Embun Pagi
  • Constellations From The Room
  • Forbidden Love
  • Sampai Saat Ini, Aku Masih Mengagumi Dirimu
  • Self Injury's(complete)✔

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu