Pelangi Cewek Ganteng

Pelangi Cewek Ganteng

  • WpView
    Reads 584
  • WpVote
    Votes 40
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadMatureComplete Wed, Apr 27, 2022
Viory menyukai dua orang secara bersamaan, siapa yang menyangka ternyata salah satu dari mereka adalah gebetan sahabat dekatnya. "Tak apa, aku bisa menyerah terhadapnya, lagian masih ada satu orang lagi yang aku sukai." Pikir Viory mengingat jika dia memang menyukai dua orang sekaligus. Saat pulang sekolah sahabat Viory membawa gebetannya itu ke cafe tempat mereka biasa nongkrong. yang ternya dua orang yang ada di ingatan Viory adalah satu orang yang sama yang ada di hadapannya saat ini. "Hy aku Kenza temannya gia" ucapnya memperkenalkan diri kepada Viory. Bagaimana Viory akan akan melepaskan dua orang yang dia sukai kepada sahabatnya sendiri gia dan bagaimana jadinya jika sahabatnya gia itu mengetahuinya lewat buku diary Viory? Ikuti terus cerita nya yaaaa
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Awas Jatuh Cinta
  • Sepasang Sepatu #End
  • RUMIT (END)
  • Jatuh Cinta Sama Pacar Temen
  • Jejak Rasa [TAMAT]
  • [✔] NIKAH-LEE JENO
  • OMG, i really liked him
  • At a Glance (NOREN)
  • FATAMORGANA

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines