Ayirra aneisha biasa dipanggil Aya, seorang perempuan yang berparas cantik bak bidadari dan berhati mulia. Semua siswa SMA Kartini mengenal ia karena berparas cantik dan menjadi siswi yang berprestasi.
Walaupun ia secantik bidadari tetapi ia ditolak mentah-mentah oleh Aroi Albarack, laki-laki yang memiliki paras bak devil dan dingin seperti kulkas seratus pintu di SMA Kartini.
*emang ada ya kulkas seratus pintu? athr*
"haii aroi, nih aku ada makanan yang tadi aku buat pas mau berangkat ke sekolah, kamu wajib cobain ya!!" sapa Aya sembari memberi kotak makan yang berisi makanan yang telah ia buat.
"gue gamau dan ga akan terima, jadi lo ga usah maksa gue buat coba itu, lo kira dengan cara lo yang kayak gini buat gue suka sama lo? nggak ya! asalkan lo tau gue ga akan pernah suka sama cewe modelan kayak lo!" bentak roi yang membuat hati mungil aya menciut.
Tidak lama, risa yang sudah sangat kesal dan geram dengan penuturan roi kepada Aya, ia pun maju dan membawa Aya kebelakang punggungnya.
"heh lo itu jelek, lo itu harusnya sadar kalau lo disukai Aya, banyak kok cowo yang mau sama Aya cuman sahabat gue ini matanya picek, udah tau lo jelek gitu, ga akan ada cewe yang mau sama cowo yang jahat dan kasar kayak lo roi!!" Kesal risa sahabat sejiwa Aya.
"udah raa, aku gapapa kok, makanannya biar aku yang makan aja gapapa, yaudah yuk kita balik ke kelas aja." ucap Aya sambil menyeka air matanya dan menarik tangan risa untuk segera kembali ke kelas.
sekian, maaf kalau kurang dapet feel-nya bcs aku masih belajar hehehe :3.
📍Tandai kalau ada typo ya guys, ini second story akuu, semoga suka and ini murni hasil pemikiran aku yang random, tidak ada plagiat atau yang lainnya.
📍Bila ada kesamaan nama tokoh dan tempat harap paham, karena semua terjadi atas ketidaksengajaan dan tidak ada unsur plagiat, ini murni hasil imajinasi aull! Bukan kisah nyata juga!!
📍 Bakalan lanjut ke chap selanjutnya kalau lagi mood dan tunggu waktu yang tepat, awaited!
⚠️Cerita Mengandung Bawang⚠️
"Lo maunya apa sih?!" Prilly mengeluarkan seringai menggodanya. Tangannya terulur menuju kerah seragam Ali, ia menarik kerah Ali hingga tubuh Ali terhempas mendekat ke arahnya. Lantas ia berbisik dengan suara seraknya, "Lo tanya mau gue? Mau gue itu cuma hati lo."
"Murahan," ujar Ali sarkastik sambil menarik tubuhnya menjauh. Prilly masih mempertahankan seringaiannya.
"Gue gak bakal semurahan ini kalo lo gak jual mahal sama gue," balas Prilly berusaha memepetkan tubuhnya kepada Ali. Hal itu membuat Ali berdengus jijik, enggan luluh dengan sikap Prilly.
"Cih, dasar jalang!" Prilly menatap tepat di bola mata Ali, ia memonyongkan bibirnya dan memajukan dirinya seperti ingin mencium Ali. Tetapi, hal itu tentu hanya sebuah gertakan saja. "Gue gak bakal jadi jalang, kalo lo gak nolak cinta gue!" Prilly berteriak kencang tanpa memikirkan harga dirinya lagi.
"Tapi, gue udah punya pacar!" Ali berdesis sembari menatap tajam Prilly.
"Putusin pacar lo, terus jadian sama gue. Gampang 'kan?" Ucapan enteng Prilly membuat emosi Ali tersulut.
"Lo gak cinta sama gue tapi lo terobsesi buat milikin gue. Dan itu buat lo gila!" Prilly berdecih, "Iya. Gue gila. Dan itu semua, karena lo!"
Dua tahun bukanlah waktu yang singkat bagi Prilly untuk mengejar Ali dengan cara-cara murahan, dan hasilnya ia selalu ditolak mentah-mentah oleh Ali. Ini semua berawal dari Prilly yang sering mengumbar gombalan kepada laki-laki di kelasnya dan Ali adalah salah satunya, dan itu semua berakhir pada perasaan semu yang nyata.
Awalnya Ali tidak pernah menganggap serius gombalan Prilly, tetapi Prilly mulai melakukan tingkah konyol, seperti saat Prilly mengumumkan kepada seluruh teman sekelasnya bahwa mereka resmi berpacaran. Hal itu membuat Ali muak dan membenci Prilly. Oleh karena tingkah murahan Prilly, Ali tidak ingin berinteraksi selayaknya teman sekelas kepada Prilly.
Seringkali Ali menyuruh Prilly menjauh, namun selalu dibantah dan Prilly memilih untuk b