Sunset Butterfly 🦋

Sunset Butterfly 🦋

  • WpView
    Reads 7,172
  • WpVote
    Votes 626
  • WpPart
    Parts 21
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 5, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Friends to Lovers
Destined Love
First Love
"Na, nikah, yuk?" tanyaku di sore hari yang absurd. Setelah kami berdua bermain bulu tangkis dan sedang beristirahat. Aku pikir ia akan menyemburkan minumannya saat pertanyaan gila itu keluar dari bibirku. Sebaliknya, ia tersenyum dan menatapku lembut. "Oke." Aku tidak pernah menemukan orang segila ini, kecuali aku dan suamiku sendiri. *** Jika mencintai tidak membutuhkan alasan, apakah pernikahan juga? Seharusnya begitu. Namun, mengapa Aisy memikirkan alasan orang seperti Nasa menikahinya? la tidak pernah berkeinginan menemukan kelebihannya sendiri. la lupa. Padahal sejak dulu ia yang menginginkan seseorang seperti Nasa menjadi suaminya. Padahal ia yang selalu berdoa pada Tuhan agar Nasa melihatnya. Padahal ia yang terus mencari perhatian Nasa. Padahal ia yang mengajak Nasa untuk menikah. Dan, begitulah Tuhan memberinya alur cerita yang indah. Namun, mengapa ia masih mempertanyakan kesempurnaan? . . . Tasyayouth-Okt 2022 All Rights Reserved
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mulih (END)
  • Círculo del Destino
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • EINSTEIN [END]
  • Nala dan Mas Juragan
  • GARWO KINASIH SANG DALANG (DELETE SEBAGIAN)
  • The Last Yes!
  • Sweetly Tied
  • The Mafia's Sinful Obsession

GPH Giandra Abisatya Soetjipto, penerus adipati Danadyaksa, tahu bahwa jalan hidupnya sudah ditentukan jauh sebelum ia sempat memilih. Yang tidak ada dalam ekspektasi Gian adalah bertemu dengan Aurea Danika, seorang Senior Consultant dari Jakarta yang sedang rekreasi bersama teman-teman kantornya ke Pura Danadyaksa dan tiba-tiba masuk ke perpustakaan milik pura yang seharusnya tidak terbuka untuk umum. "Dan aku dengan enaknya manggil kamu Gian gitu aja? Aku bakal kena hukum adat kah, Gi? Eh, Gusti?" "Santai aja, Re. Temen-temenku juga udah tau aku siapa tapi masih manggilnya Gian, kadang Bro, kadang Nyet, kadang-serius, Re. Aman aja. Masyarakat Solo aja juga kadang manggilnya Mas, kok. Gapapa, ini bukan zaman kerajaan dulu." Dari perpustakaan tua ke Pasar Gede, dari malam-malam di ruang kerja hingga sarapan bersama keluarga yang tidak pernah mereka rencanakan, Rea dan Gian menemukan sesuatu yang tidak mereka cari. Tapi di balik tembok Pura Danadyaksa, ada kepentingan yang lebih besar dari perasaan dan harga yang harus dibayar untuk setiap pilihan yang dibuat. Mulih : Pulang, kembali ke rumah (Illustrations of Rea and Gian were drawn by @hi.buttery on Instagram)

More details
WpActionLinkContent Guidelines