Cinta Tanpa Batas

Cinta Tanpa Batas

  • WpView
    Reads 13
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Mar 29, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Cinta datang tak mengenal tempat dan waktu. Bahkan saat nyawa sedang diujung tanduk pun rasa itu bisa bermekaran. Naina tak pernah, ah mungkin pernah merasakan rasa ketertarikan pada lawan jenis tapi tidak benar-benar memperdulikannya. Waktunya hampir sebagian besar ia gunakan untuk meraih cita-citanya sebagai seorang apoteker. Namun sebuah perjalanan di sebuah tempat terpencil membawanya pada seseorang yang mengajarkannya arti cinta yang sebenarnya. Robi, seorang prajurit dua bengkok kuning yang disapanya bang bibi berhasil menyita satu tempat di hati dan pikiran apoteker muda itu. "Mbaknya!" "Ya?" "Jadi obat hati saya, mau?"
All Rights Reserved
#20
apoteker
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di Antara Akar dan Langit
  • Takdir Terbaik
  • BUMANTARA
  • (END) Senyummu Cantika
  • Sebelum Kau Mengetuk
  • TIGA TALI CINTA
  • Surrender
  • BERRY MERAH
  • Komandan Tampanku

Langit sore menggantung rendah di atas kampus yang tak lagi riuh oleh tawa mahasiswa. Hanya angin yang menyelinap diam-diam, menyapu dedaunan yang gugur terlalu dini. Di bawah pohon trembesi tua, Ikhram berdiri. Tegak, namun goyah. Matanya menatap cakrawala yang seolah sedang menunggu jawab. Sinta tak jauh darinya, namun dunia seakan telah menarik jarak tak kasatmata di antara mereka. Ia menggenggam berkas laporan yang pernah mereka tulis bersama. Tangan kecilnya gemetar, bukan karena dingin, tapi oleh beban kalimat terakhir yang belum sempat terucap. "Apa arti mencintai jika langkah kita saling bertentangan?" Ikhram tak menjawab. Langit sore memudar menjadi kelabu. Seperti hati mereka yang ragu: apakah cinta bisa tumbuh di antara kemarahan pada dunia? Mereka pernah seirama: pada slogan-slogan perubahan, pada malam-malam panjang di sekretariat, pada luka-luka yang disembunyikan di balik semangat. Namun kini, mereka berdiri di persimpangan dua jalan yang tak lagi sejajar. "Kau memilih diplomasi," bisik Ikhram, "sementara aku memilih api." "Dan mungkin keduanya akan gagal," jawab Sinta, nyaris seperti doa. Di sela desah angin dan detak jam kota, mereka melepaskan satu sama lain-tanpa janji, tanpa kepastian akan bertemu lagi. Hanya diam, dan senyum yang tak sempat penuh. Satu daun jatuh di antara mereka. Dan cinta pun menggantung, seperti langit yang belum selesai mencatat akhir cerita.

More details
WpActionLinkContent Guidelines