KIDUNG LEMATANG

KIDUNG LEMATANG

  • WpView
    Reads 41
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 12, 2022
Sejuk, damai dan menenangkan. Suara Lematang laksana kidung yang menenangkan. Diantara gemuruh masalah dan pekerjaan yang menghantam. Kidung itu mampu meredam sekaligus menghadirkan nuansa yang selalu dirindukan. Sang Pendamping berjuang menyelesaikan tugas dengan baik. Diantara bayang-bayang masa lalu yang selalu menghantui. Diantara ketakutan yang amat sangat. Diantara bulir-bulir kerinduan yang mengalir deras. Diantara tekanan pekerjaan beruntun tanpa henti. Diantara rengekan wajah-wajah polos memelas peluk hangat. Sang Pendamping tegak berdiri menghalau badai. Walau jiwa remuk redam. Walau hati luluh lantak. Walau asa rapuh berserakan. Sayup sang kidung mampu membuat Sang Pendamping tetap bertahan. Perjuangan harus diakhiri dengan kemenangan. Kisah Palupi Sang Pendamping dalam menuntaskan perjuangannya.
All Rights Reserved
#407
kesetiaan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pendekar Dari Pajajaran
  • O Maahi Re
  • Dalam Bayangan Ketakutan: Kumpulan Kisah
  • KIDUNG JAYANEGARA: Nyanyian Jiwa yang Belum Usai
  • MY BEAUTIFUL MAID
  • Abyanca || Abyan & Bianca
  • 𝐊𝐮𝐫𝐮 𝐊𝐮𝐥𝐯𝐚𝐝𝐡𝐮
  • ‹ 𖥔 ࣪ ARJUNA'S PRIYA ᥫ᭡
  • Tentang Pemimpi (Kisah Meraih Beasiswa LPDP)

Setiap kerajaan besar menyimpan dua hal yang tak terelakkan: kejayaan... dan keretakan. Di Tarumanagara, pecahan-pecahan itu mulai terasa seperti getar halus di permukaan air-nyaris tak terdengar, tapi menyimpan badai yang sabar. Patih Wilagni tahu: ia sedang berdiri di antara sisa-sisa peradaban yang megah, tapi rapuh. Di usia senjanya, ia hanya ingin diam di beranda, mendengar suara angin dan cucu yang tertawa. Tapi sejarah jarang mengizinkan seseorang pergi tanpa luka. Tuduhan, pengkhianatan, dan dendam masa lalu mendesaknya untuk memilih: diam... atau melindungi yang ia cintai. Aryaseta, putra semata wayangnya, belum sepenuhnya tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya adalah warisan dari masa yang runtuh. Ia masih membaca sastra tua di kamarnya, tidak tahu bahwa namanya sedang ditimbang di ruang-ruang kekuasaan yang tak ia kenal. Dan Santanu, bekas prajurit yang memilih menjauh dari hiruk-pikuk istana, kini harus kembali menakar kesetiaan di atas luka. Di antara rempah-rempah dagangannya, ia menyimpan satu sumpah: agar tak satu pun anak cucunya jatuh ke dalam lingkaran dendam keraton. Lalu, Tarumanagara pun pecah. Dari rahimnya lahir dua anak kandung yang tak lagi saling mengenal: Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Satu ingin melanjutkan nama, satunya ingin memulai yang baru. Tapi sejarah tidak pernah bisa ditulis tanpa darah. "Petaka di Tarumanagara" bukan sekadar kisah tentang raja dan perang. Ini adalah narasi tentang perpisahan, tentang keberanian menyelamatkan jiwa meski kehilangan segalanya, dan tentang cinta yang bertahan meski dunia berubah bentuk. Bila kekuasaan adalah lingkaran, maka cerita ini adalah tentang orang-orang yang memilih keluar dari pusaran itu-demi cinta, demi warisan yang lebih luhur daripada tahta.

More details
WpActionLinkContent Guidelines