Max and Quin

Max and Quin

  • WpView
    LECTURAS 24
  • WpVote
    Votos 4
  • WpPart
    Partes 2
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación vie, abr 1, 2022
oke, let's get it! "Gue sampe bingung mau ngumpat apa lagi buat lo bedua, asli! sangking BEGO nya!" ucap Ronald dengan akhir yang penuh penekanan.Namun kedua insan dihadapan Ronald hanya menatap nya datar. "Lo kenapa sih? gue bingung, Nald? " "iya sama! apalagi gue, tambah gak ngeh lo bicara apaa?" "Tuhan! capek Ronald berteman dengan kedua makhluk mu ini." Ronald meninggalkan mereka berdua. Max dan Quin. Insan berbeda jenis yang dipersatukan oleh Tuhan sejak usia yang begitu belia. Entah mengapa? apa memang garis takdir mereka mengukir seperti itu? Mereka terlalu naif untuk menyadari apa yang tumbuh diantara keduanya. Hidup bersama membuat mereka begitu dekat bagai hidung dengan upil nya. Max selalu ingin direpoti bahkan dibutuhkan oleh Quin, sama hal nya dengan Quin yang tidak bisa bertindak tanpa uluran tangan Max. Ini yang menyebabkan beberapa oknum sangat greget terhadap keduanya. Terutama Ronald yang tiada hentinya menjelaskan hingga mungkin berbusa, bahwa hubungan Max dan Quin bukan lagi dikatakan sebatas pertemanan. Ronald dengan gemas berkata, "heh! lo bedua tuhh udah pake rasaaaaaa! gak mungkin real like friendship, right?! Lo cinta Quin, Max. Dan sebaliknya Quin, lo juga punya rasa yang sama! " kedua nya kompak menjawab "NO! WE JUST A FRIEND, NOT MORE THAN BULLSHIT, THEN YOU CALLED LOVE! " oke gais, Ronald menyerah!
Todos los derechos reservados
#69
max
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Princess of My Heart [Completed]
  • Sudut pandang (felisha)
  • Please Continue Protecting Me"IND" END
  • Rival, Jadi Pacar?
  • Whispers in the Blood
  • [Bukan] Couple Goals [SUDAH TERBIT]
  • Become Baby Boy✓
  • I'm a Girl, Bos!
  • GEVRONZ

Berawal dari sebuah pertemuan yang tidak disengaja, hingga tanpa sadar membawa keduanya terjebak dalam perasaan yang sama. "Sekali lagi, terima kasih?" Mengerti tatapannya, Flo langsung menyerukan namanya. "Flo, Florenza Qiandra." "Yaa, terima kasih banyak, Florenza." Flo mengangguk, sebelum lelaki tersebut keluar dari mobilnya. Di tangannya, kini sudah terdapat sebuah kartu nama. "D'El Corporation, Denzel Edelsteen." Gumam Flo. Disaat hati beradu dengan gengsi, serta ego menghantui. Akan kah salah satu dari mereka mengalah? Berani mengungkapkan perasaan yang sebenarnya? "Lupain, apa yang saya bilang tadi. Karena setelah ini, mungkin saya juga bakal lupain perasaan saya ke kamu." -Denzel Edelsteen- "Maafin aku. Aku mau tarik ucapan aku waktu itu, perasaan Om ke aku, sama sekali ga salah. Aku emang bodoh, aku baru sadar sama perasaan aku sendiri pas Om ga ada disamping aku. Aku ga tau mau bilang apalagi, tapi yang jelas, aku nyesel, aku beneran takut, karena udah biarin Om pergi." -Florenza Qiandra-

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido