We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Avansa

Avansa

  • WpView
    Reads 1,712,953
  • WpVote
    Votes 132,118
  • WpPart
    Parts 45
WpMetadataReadComplete Sat, Sep 24, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
"Pertama, hidup. Kedua, pergi. Ketiga mati," ucapnya dalam hati. "Avan. Sasa ada pertanyaan, Avan jawab ya!" Sasa menyandarkan kepalanya, di atas pundak laki-laki itu. "Avan pilih yang mana, satu, dua, atau tiga?" "Tiga," jawab Avan asal. Sasa menatap sinar matahari yang mulai menghilang diujung laut. Matanya terasa memanas, entah apa sebabnya. Sasa kembali bertanya, "Kenapa tiga?" "Pengen aja, sih." Lagi-lagi Avan tak memperdulikan Sasa. Bahkan laki-laki itu tidak menyadari saat Sasa menutup matanya, dengan air mata yang mulai menetes. "Kalau begitu. Sasa harap, besok gak bangun lagi," gumamnya pelan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • PERFECT BAD COUPLE (TERBIT)
  • Grafi [End]
  • Andira [End]
  • Rahasia Rasa (COMPLETE)
  • Vericha Aflyn ✔️
  • DRABIA [END]
  • Dua Cinta (Our Promise)
  • ALBAR
  • GALASKA [RE-UPLOUD]

Beberapa detik tatapan mereka beradu. Athur menajamkan tatapan saat Milla terus menatap matanya. "Jangan berani tatap gue!" "Kenapa? Mata lo sakit?" Bukan mundur. Milla malah semakin maju. "Jangan lihat mata gue!" tegas Athur memalingkan wajah. "Oo jadi lo itu sakit mata? Atau mata lo ada beleknya ya? Dih jorok." "Diam!" Milla tersenyum menantang. Ia pindah posisi di depan Athur sehingga cewek itu semakin leluasa menatap mata Athur. Milla mempertajam penglihatan. Ia penasaran, memang ada apa di mata Athur. "Mata lo baik-baik aja. Gak merah tuh," ucapnya bak seorang dokter spesialis mata. Athur menunduk menatap mata Milla penuh amarah. "Minggir." Satu kata keluar penuh penekanan. Bukan Milla jika segera mundur saat ada hal yang menyenangkan. Milla malah semakin maju dan menatap mata beriris hitam pekat itu. "Jangan-jangan mata lo katarak ya. Atau malah mata lo punya virus menular jadi orang lain gak boleh lihat mata lo," ucap Milla bernada berlebihan. Sampai-sampai ia membelalakan mata, membuka mulut serta meletakkan kedua tangan di pipi. Emosi yang sejak tadi Athur kendalikan kini sudah di ujung tanduk. Baru kali ini ada orang yang berani menatap matanya. Bahkan sedekat ini. Apalagi baru kali ini kata-kata dingin Athur tidak mempan. Saat semua orang menunduk ketika Athur mengedarkan pandangan. Milla berbeda. Saat semua orang takut untuk berbicara dengan Athur. Milla berbeda. Dan saat semua orang diam ketika Athur berbicara. Milla berbeda. Tatapan Athur lurus pada mata Milla. "Gue akan buat lo nyesel berani tatap mata gue!" tegasnya bernada mengancam.

More details
WpActionLinkContent Guidelines