The Last Aratas
Sudah tujuh belas tahun sejak Rehzan meninggalkan Revano, dan selama itu pula Revano hidup dengan kebencian yang terus mengakar dalam hatinya. Baginya, Rehzan bukan sekadar ayah yang pergi-dia adalah pengkhianat yang meninggalkan Alin begitu saja, membangun kehidupan baru bersama Kenara dan anak-anaknya di Jerman.
Namun, Revano tidak pernah tahu bahwa sejak kepergiannya, Rehzan tidak benar-benar menghilang tanpa jejak. Ada saat-saat di mana dia kembali ke Indonesia secara diam-diam, mengamati dari kejauhan, memastikan bahwa Revano baik-baik saja. Tapi, setiap kali ia ingin muncul, sesuatu menahannya-rasa bersalah, atau mungkin ketakutan bahwa anaknya benar-benar tidak akan menerimanya lagi.
Sekarang, di usia 17 tahun, Revano sudah menjadi pemimpin Aratas Squad yang baru. Dia dan anak-anak dari generasi lama geng itu-Mauren, Gilang, dan Sabima-berusaha membangun kembali kejayaan yang pernah dimiliki oleh ayah-ayah mereka. Tapi Revano tidak melakukannya demi warisan Rehzan. Tidak. Dia ingin membuktikan bahwa dia bisa lebih dari sekadar "anak dari pemimpin lama."
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Suatu malam, saat Revano sedang duduk di markas, seseorang mengetuk pintu dengan keras.
"Bang, lo harus lihat ini," ujar Gilang, napasnya tersengal.
Revano mengernyit. "Ada apa?"
Gilang menyerahkan ponselnya. Di layar, ada sebuah video yang baru saja diunggah di internet-rekaman seorang pria dengan jaket hitam berdiri di atas motor, di tengah jalanan kota. Wajahnya tidak terlihat jelas, tapi suaranya terdengar begitu familiar.
"Aratas Squad yang sekarang terlalu lemah."
Revano merasakan dadanya bergejolak. Dia mengenali suara itu.
Itu suara Rehzan.
Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Rehzan kembali setelah bertahun-tahun? Dan apa maksudnya mengatakan bahwa Aratas Squad lemah?