Zero Expectations || Huang Renjun

Zero Expectations || Huang Renjun

  • WpView
    Reads 16,187
  • WpVote
    Votes 2,329
  • WpPart
    Parts 26
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 15, 2023
WpInfo
Fanfic
NCT
[SEQUEL OF HIRAETH] Ingin bahagia? Maka letakkan semua keinginan itu pada titik zero expectations. Kata orang, jika ingin bahagia, maka jangan pernah punya ekspektasi berlebihan kepada siapapun. Karena sejatinya, realita tidak semanis ekspektasi "Kamu memang pintar dan berprestasi, tapi kembaran kamu lebih beruntung!" "Lo terlalu membanggakan diri dengan semua pujian yang lo terima." "Pintar belum tentu beruntung. Tapi orang yang beruntung, jelas pintar mencari peluang." ______________________________________________ Lanjutan kisah hidup si kembar setelah berhasil dipersatukan. Apakah mereka masih bisa terus bersama? Apakah Auriga masih bisa menggenggam janjinya untuk selalu berada di sisi Agha? Kisah ini akan membawa kita untuk tidak terlalu berekspektasi tinggi terhadap sesuatu hal yang belum pasti. Cukup letakkan semua harapan itu dalam doa dan pada sujud terakhir. Copyright, Rameliaputriii
All Rights Reserved
#33
terbitbersamasaturnus
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "Biarlah: Sebuah Kisah Tentang Sunyi dan Luka"
  • Find Me √ (Completed)
  • Sepasang Sepatu Tanpa Arah [END]
  • Salah Target [Unpublish]
  • CAPTEN BASKET MILIK SASKIA [TAMAT]
  • ARGALAND
  • Untuk Arjuna[✓]
  • LIGHT

Hidup adalah panggung, dan setiap orang mengenakan topeng. Beberapa topeng begitu sempurna hingga bahkan pemakainya lupa wajah aslinya. Tawa bisa menjadi tirai, senyum bisa menjadi ilusi, dan kata-kata "Aku baik-baik saja" bisa menjadi kebohongan yang paling menyakitkan. Ini adalah kisah tentang seseorang yang menjalani hari-hari seperti biasa, seperti semua orang lainnya. Ia tertawa bersama teman-temannya, membantu keluarganya, mengisi waktunya dengan hobi, dan menjalani hidup seperti yang seharusnya. Tapi di balik semua itu, ada kehampaan yang tak terjelaskan, ada luka yang tak terlihat, ada pertanyaan yang tak pernah terjawab. Bagaimana rasanya hidup tanpa benar-benar merasa hidup? Bagaimana rasanya berjalan di dunia ini, tetapi tidak pernah benar-benar berpijak? Dan bagaimana jika, suatu hari, semuanya terasa terlalu berat untuk dilanjutkan? "Biarlah" bukan hanya sebuah cerita. Ini adalah perjalanan di antara cahaya dan kegelapan, kebahagiaan yang palsu dan kesedihan yang nyata, antara eksistensi dan kehampaan. Ini adalah kisah yang mungkin terlalu dekat dengan kenyataan-dan mungkin, terlalu sulit untuk diabaikan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines