REMBULAN

REMBULAN

  • WpView
    Reads 847,110
  • WpVote
    Votes 24,113
  • WpPart
    Parts 56
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Aug 23, 2025
Dyana Rembulan, seorang gadis cantik yang hamil anak dari pacarnya. Namun, karna sang pacar yang tak mau bertanggung jawab dirinya terpaksa pergi dari rumah karna diusir oleh sang Tante dari rumah mendiang mama dan papanya sendiri. Namun di saat Embun berhasil bangkit dan bahagia bersama anaknya, kenapa masa lalu seakan mengejarnya kembali? Kanapa dia harus bertemu dengan sang pacar setalah 8 tahun lebih berlalu. Apalagi sang pacar sudah mempunyai keluarga nya sendiri. Akankah Embun dapat bertahan dengan luka yang seakan enggan untuk pulih? Apakah bahagia itu bisa Embun dan anaknya raih? Ataukah Embun memang di takdirkan untuk tidak bisa bahagia. *** •my second story
All Rights Reserved
#596
ibutiri
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Bukan ZONK!
  • Axelardo: (Not) Bad Papa
  • SOLITUDES
  • MAGA (ON GOING)
  • NAYLA  || Luka Berakhir Duka (End:Revisi📌)
  • Transmigrasi Menjadi Pengasuh Si Bungsu
  • ARUM | On going
  • PAIN [TAMAT]
  • ARKAN |END| Belum Revisi

"Jadi gue harap lo bisa akting" Abel mendongak menatap bingung Aidan "Akting? Untuk apa?" Aidan berdecak. "Hamil!" bentak Aidan ketus. Abel terkesiap Akting hamil? Padahalkan dirinya memang benar-benar hamil! Kegilaan macam apa lagi ini! "Gue harap lo bertindak layaknya wanita hamil" Abel mendengus. Memangnya wanita hamil bertindak seperti apa? "Pokoknya sebelum bayi itu lahir, lo harus bertindak layaknya orang hamil. Jangan lupa setiap bulannya lo harus membesarkan ukuran perut, dan buat se 'real' mungkin biar orang-orang percaya" Abel tersenyum miris mendengar setiap ucapan yang Aidan lontarkan. Bagaimana mungkin dirinya harus berakting layaknya orang hamil, sementara dirinya sendiri hamil tanpa diminta? Aidan langsung berbalik pergi, Abel mendengus. Kemudian menundukkan kepala menatap perut datarnya "Sabar ya sayang, jangan merasa 'aneh' mendengarkan percakapan mama tadi. Seengaknya mama nggak harus nutupi perut mama untuk bulan-bulan selanjutnya kan?" jelas Abel, pada calon bayinya. Setidaknya dengan adanya 'titah' Aidan ini. Mau sebesar apapun perut Abel nanti, ia tak perlu risau, karena pasti Aidan akan menganggap 'perut buncit' Abel itu bohongan. (CERITA SUDAH TERSEDIA LENGKAP DI KARYAKARSA!) Start: 27/6/1

More details
WpActionLinkContent Guidelines