Bukan Cuma Gabut Lagi

Bukan Cuma Gabut Lagi

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 23, 2022
Dunia yang berputar hanya dikelilingi oleh IG, FB dan Twitter, sampek gak kerasa ternyata usia sudah tua. Penulis yang mencoba mengungkapkan kedalaman isi hati ke pembaca bukan ke doi. Sampek dalamnya, tiada alat ukur yang mampu mengukur. Semoga kalian yang baca ini bisa memberikan komentar yang membangun guna meneruskan kelangsungan hidup penulis. Terimakasih
All Rights Reserved
#319
bingung
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hidupk(a)u [Part I]
  • Dark or Light??? ✔
  • Unexpected Mate (SunaOsa)
  • girl of blood moon [kimetsu no yaiba x reader]
  • sailing with the waves
  • Crazy Boys | Yuta × Nct {18+}
  • Karunia di Seperempat Abad (E-book)
  • Constellations From The Room

Hidupk(a)u mengisahkan perjalanan seorang gadis berusia sembilan belas tahun untuk menemukan arti hidup yang sebenarnya. Usia sembilan belas tahun benar-benar menyadarkannya bahwa dunia masa kecilnya sudah hilang dari kehidupannya. Kelenaannya akan kehidupan masa kecil yang indah membuatnya gelap mata saat menginjak usia transisi menuju dewasa. Masalah demi masalah timbul silih berganti, membuatnya merasa dunia begitu jahat kepadanya. Pertanyaan demi pertanyaan pun timbul dalam benak seolah ingin menentang takdir. Dalam kekalutan yang teramat sangat, ia mengurung diri dan merenung tuk beberapa waktu. Di tengah proses perenungan yang tak sebentar, berbagai gejolak kehidupan mencuat satu per satu seakan memberi tanda baginya. Perenungan yang begitu menguras pikiran dan perasaan. Perenungan yang begitu melelahkan raga serta jiwa. Namun terselip jawaban-jawaban Tuhan di setiap gejolak yang menyeruak di permukaan. Masa dewasa yang ia pikir hanya soal jatuh cinta dan patah hati, nyatanya lebih membekas dari dua hal klasik itu. Keindahan yang melebihi jatuh cinta, dan keburukan yang melebihi patah hati. Keduanya lebih melekat dalam langkah dan menyatu dalam ego. Keduanya lebih membelalakkan mata akan hidup yang sebenarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines