Story cover for Biru by soenyi
Biru
  • WpView
    Reads 27
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 5
  • WpView
    Reads 27
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 5
Ongoing, First published Apr 05, 2022
Hujan sore itu baru saja selesai. Hawa dingin menyapu setiap sudut kota. Genangan air tertumpah di mana-mana. Riu segera bergerak, melangkah hati-hati di antara kubangan kecil di sepanjang jalan. Ia takut hujan susulan tetiba turun disebabkan langit di atas sana masih memajang mendung pekat yang belum turun. 
Riu merapatkan jaketnya. Udara terasa makin dingin. Ia berjalan semakin cepat beberapa ratus meter ia akan segera sampai di depan gedung apartemennya. 

Sore semakin tua, hujan kembali turun dengan deras. Jari-jari hujan meluncur cepat seperti ribuan bahkan jutaan jarum perak menghujam bumi. Riu segera menanggalkan atribut yang melekat di tubuh jangkungnya. Bergegas ke kamar mandi membersihkan diri. Dia ga sabar ingin segera menikmati minuman panas yang bisa meredam kebisingan di dalam perutnya.

Segelas cokelat panas dengan asap yang masih mengepul ke udara tersaji manis di depan meja. Di temani beberapa lembar roti tawar yang diolesi selai strawbery seadanya. Diharap cukup untuk melawan rasa lapar yang sangat mengganggunya. 

-----'
All Rights Reserved
Sign up to add Biru to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
Liberosis by syahdakhairunnisa0
29 parts Ongoing
"Kamu emang anak yang gak berguna! Saya menyesal sudah membesarkan kamu! Apa yang bisa saya banggakan? Gak ada!" "Memang gak ada! Gak ada yang bisa Papa banggain dari aku. Meskipun aku udah berjuang selama ini, itu semua gak ada artinya untuk Papa!" "Anak kurang ajar!" PLAK! Di tengah derasnya guyuran hujan, pria belasan tahun itu melangkah tertatih-tatih dengan darah yang mengucur dari pelipisnya. Wajahnya penuh lebam, sudut bibirnya robek, menyisakan rasa perih yang begitu luar biasa ketika bercampur dengan air hujan. Ia berjalan tak tentu arah di pinggir trotoar, kaos hitamnya basah mencetak dengan jelas bentuk tubuhnya yang atletis, pria itu hanya memakai celana pendek sehingga bulu-bulu di kaki jenjangnya terlihat jelas bahkan udara yang sangat dingin begitu menusuk ditambah tidak memakai alas kaki. Kepalanya menengadah ke atas langit. Membiarkan ribuan rintik hujan itu menampar wajahnya. Matanya terpejam sejenak. Dari radius dua ratus meter tempatnya berdiri, ada sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Sudut bibirnya terangkat. Sepertinya seru, itu pikirnya. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah pelan turun ke jalan aspal seperti orang yang tidak berminat untuk hidup. Dari arah kanan, mobil melaju begitu kencangnya tanpa melihat ada seorang yang berdiri di tengah jalan karena ribuan air itu menutupi kaca mobil sehingga sopir tidak mampu menatap dengan jelas. Selamat tinggal, dunia yang menyakitkan. Namun lima meter lagi saat mobil hendak menyentuh tubuhnya, tiba-tiba ada yang menarik pergelangan tangan pria itu dengan begitu cepat. Napasnya berburu kencang. "LO GAK WARAS?!" Perempuan bermata biru itu ... setidaknya itu yang Alvan lihat sebelum matanya benar-benar terutup.
harmonic paths by jajajujaa_2
12 parts Ongoing
Langit di atas mereka mulai kehilangan warna keemasannya, berganti dengan semburat ungu dan biru tua yang perlahan menyelimuti cakrawala. Angin sore berhembus lembut, membawa ketenangan yang hanya bisa dirasakan ketika dunia mulai melambat. Han dan Lee Know duduk berdampingan di tepi danau kecil, kaki mereka menggantung di atas permukaan air yang memantulkan cahaya senja. Mereka tidak berbicara untuk beberapa saat, hanya menikmati momen tanpa merasa perlu mengisinya dengan kata-kata. Tiba-tiba, Han tertawa kecil, nada suaranya ringan namun penuh kehangatan. "u're weird." Lee Know langsung menoleh, memasang ekspresi tersinggung yang berlebihan. Matanya menyipit seolah meminta penjelasan. "No, I'm not." Han hanya tersenyum, sorot matanya lembut saat menatap sahabatnya itu. "It's okay, though. u're different-kinda unique. And I love weird. Makes life more interesting." "im normal right? compared to u?" Lee Know masih menatapnya dengan tatapan meneliti, seakan mencoba mencari apakah ada ejekan terselubung di balik kata-kata itu. Tapi Han tetap tersenyum dengan tulus, tanpa niat lain selain mengatakan apa yang benar-benar ia pikirkan. Setelah beberapa detik hening, Lee Know akhirnya menghela napas pelan, lalu menatap lurus ke arah danau. "I like normal too." Han tidak menjawab, hanya tersenyum kecil sebelum kembali menatap langit. Mereka tidak butuh banyak kata untuk mengerti satu sama lain. Dalam perbedaan dan keunikan mereka masing-masing, ada kenyamanan yang tidak perlu dijelaskan. Dan itu sudah lebih dari cukup. masih didalam revisi👹 sumpah sorry kalo gajelas soalnya yg bikin juga gajelas, anjay mantap selamat menikmati👊🏻🙌🏻
The Disappearance of Butterfly by theodorusjodi
25 parts Complete
Entah mengapa semua kejadian menarik yang melibatkan kamu hampir selalu terjadi disaat senja menjelang. Satu hal yang tidak biasa dengan reaksimu ketika melihat seekor kupu-kupu yang terbang melintasi ruang kosong diantara kita berdua. Kamu menutup mata dengan kedua tanganmu melindungi kepalamu dan bergerak kesana kemari seakan mengusir kupu-kupu itu untuk pergi. Aku sempat berpikir, sepertinya ada sesuatu yang membuatmu benci akan satu hal, tapi apa ? Aku hanya melihat seekor kupu-kupu. Memang apa yang salah dengan seekor kupu-kupu ? Tanpa melanjutkan dan mencari tahu lebih dalam lagi, kupu-kupu itu terbang dan begitu juga dengan kamu yang pergi berlawanan dari arah kupu-kupu itu menghilang. Aku teringat ketika teman baikku pernah berkata, "Kamu bisa bebas pergi seperti burung, hanya saja, jangan lupa untuk pulang." Malam ini, langit hampa tak berbintang, dan hal yang paling indah adalah ketika aku melihat tawamu yang disinari oleh cahaya dari api unggun seakan membakar suasana dingin yang diselimuti oleh hawa panas dari api unggun. Aku suka caramu ketika kamu menunjukkan kepada dunia bahwa kamu sudah merasa nyaman, dengan tersenyum sepanjang waktu. Adik, kamu sedang apa disana ? Nampaknya kehidupanmu lebih tenang dari apa yang sedang kakak jalani disini. Aku sedang memiliki banyak masalah, disamping satu hal yang sedang aku pikirkan. Aku lelah. Mau bantu aku untuk mencari jalan untuk bertemu denganmu ? Tapi aku tidak mau membuat papa dan mama sedih dan merasa kehilangan lagi. One day I will sing for you from the deepest of my heart. So please come to me, so I can get your faith and let me be your man. Disaat itu memang aku lebih menghargai mimpi Tapi sekarang, aku lebih menghargai hidup. Kamu tidak perlu lagi untuk takut dengan kupu-kupu, karena aku lebih takut dengan kepergianmu. Pengagum Pembenci Kupu-Kupu, 2017
You may also like
Slide 1 of 9
The Space Between Us cover
Liberosis cover
-AFTER RAIN- cover
Birulova cover
harmonic paths cover
DIARY DEPRESIKU cover
The Disappearance of Butterfly cover
THE FORBIDDEN ROSE  cover
[✓] Daisy's Memories [Umemiya X F.Readers] cover

The Space Between Us

14 parts Ongoing

Langit Jakarta sore itu selalu terasa sama bagi Deshita kelabu, pengap, dan menyesakkan. Setiap harinya adalah sebuah rutinitas yang menguras energi, sebuah perjuangan tak henti untuk sekadar bernapas di tengah tuntutan masalah yang tak ada habisnya, ekspektasi keluarga yang membebani, dan hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur. Dia merasa seperti sehelai daun kering yang terombang-ambing tanpa arah, lelah mencari tempat untuk berlabuh. Senyumnya semakin tipis, tawanya semakin jarang, dan yang tersisa hanyalah rasa frustasi yang mengendap di dasar hatinya. Ia merindukan ketenangan, merindukan rasa nyaman yang sudah lama hilang. Di tengah keputusasaan itu, takdir mempertemukannya dengan Seseorang yang menjadi penyelamat hidupnya di tegah keterpurukan. Perlahan, kehadirannya mulai mengubah warna dunia Deshita yang semula monoton. Dia tidak datang dengan solusi ajaib, melainkan dengan telinga yang mau mendengar, bahu yang siap menopang, dan tatapan mata yang penuh pengertian. Bersamanya, Deshita menemukan ruang untuk menjadi dirinya sendiri, tanpa beban dan tanpa topeng. Dia adalah tawa yang memecah kesunyiannya, pelukan yang mengusir dinginnya, dan bisikan lembut yang menenangkan badai dalam dadanya. Ia tak pernah tahu bahwa "rumah" itu bukan selalu tentang sebuah bangunan, melainkan tentang seseorang yang bisa membuatmu merasa utuh.