Bahagia yang Terluka

Bahagia yang Terluka

  • WpView
    GELESEN 113
  • WpVote
    Stimmen 12
  • WpPart
    Teile 10
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert Mi., Apr. 6, 2022
Terimakasih sebesar-besarnya kepada Yang Kuasa atas anugrah yang diberikan sehingga kata demi kata dapat bersatu membawa makna. Ini adalah sebuah karya pertama saya sebagai penulis puisi. Cerita ini mengisahkan tentang hal-hal dalam hubungan dimana titik bahagianya tak pernah terpenuhi sehingga untuk menikmatinya fisiklah yang menjadi korbannya. Senyuman bukanlah sesungguhnya, hanya sebagai tameng dari adanya rasa malu dari sebuah raga. Saya sebagai penulis tentunya mengharapkan dan secara terbuka menerima setiap penilaian yang para pembaca sampaikan, semoga saya (penulis) dan kamu (pembaca) dapat saling membantu dan melengkapi dalam menciptakan suatu karya yang lebih baik lagi kedepannya. saya Chrismanta Surbakty (penulis) mengucapkan terimakasih banyak karena telah mampir pada laman ini. #salamsatukarya
Alle Rechte vorbehalten
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • Cinta dan Takdir Rania [End]
  • Air Mata Cinta
  • aku atau dia? || Fenly Un1ty ||
  • Aku, Kamu, dan Takdir Tuhan
  • MENCINTAIMU, SEINDAH TUHAN MENCIPTAKANMU
  • Lembut Seperti Doa
  • Senja (Diangkat Dari Kisah Nyata)
  • Pendekar Dari Pajajaran
  • INKONSISTENSI RASA (TERBIT)
  • Aksara Tak Bertuan

❝Keputusan berat yang harus aku ambil, demi menjagaku juga menjagamu adalah menjauhimu. Bukan karena benci, tapi karena aku mencintaimu. Semata agar kau dan aku tidak terjerumus dalam syahwat yang hina.❞ Begitulah kutipan tulisan yang aku tulis dan kutujukan untuk seseorang, cinta pertamaku. Assalamu'alaikum ... aku Rania Andinadya. Jika kamu bertanya kisah ini mengisahkan tentang apa ... ini tentang perjalananku dalam menemukan hingga harus belajar mengikhlaskan cinta pertamaku. Aku, begitu mencintai dia. Namun anehnya, aku sama sekali tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku padanya. Sampai suatu masa, ketika cintaku mulai terbalaskan, hidayah-Nya perlahan-lahan mengetuk pintu hatiku. Aku pun menyadari, aku dan dia tidak seharusnya sering berinteraksi, demi menghindari syahwat yang hina. Meski telah berhijrah, cintaku kepadanya masih sama. Dalam diam, aku tetap mencintai dan mendo'akan kebaikan untuknya. Tapi, siapa sangka takdir malah berkata lain. Setelah menjauhinya sebab cinta, ia telah menemukan pujaan hatinya. Lantas aku berusaha mengikhlaskan, meskipun ikhlas adalah suatu hal yang teramat pelik. Dan satu pertanyaan terus mengusik pikiranku ... mampukah aku mengikhlaskannya?

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien