Sandiwara Rembulan

Sandiwara Rembulan

  • WpView
    Reads 68
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 7, 2025
Aku mencintaimu lewat rembulan. Aku merindukanmu lewat ingatan yang selalu menggodaku. Untuk terus menatap masa lalu. Semoga dengan berjuta juta kata yang mengaitkan sosokmu, bisa mengobati sedikit dambaku karna manis senyummu yang tak gentar dihempas waktu. Aku mencintaimu lewat penaku. Kau adalah alasan kenapa aku menciptakan berjuta aksara yang berdegup di langit kerinduan. Kau adalah alasan membukitnya nadi-nadi rindu. Rembulan menyuguhkan camilan puisi saat aku melabuhkan rinduku atas namamu. Selalu menemaniku mengularkan air mata ketika kenangan menahan waktu. Aku mencintaimu, bahkan ketika rembulan menyita senyummu.
All Rights Reserved
#559
puisicinta
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • MENCINTAIMU, SEINDAH TUHAN MENCIPTAKANMU
  • Sore, Senja, dan Hujan
  • Di Balik Layar [Completed]
  • Senja (Diangkat Dari Kisah Nyata)
  • Renjana
  • PAIN (TERBIT) ✔
  • Lost in Your Mysterious Feeling [ TAMAT ]
  • DUA GARIS
  • Azkia(SELESAI)

Aku percaya cinta adalah sebuah pelukan hangat, bahkan di tengah gemuruh hujan. Tapi siapa sangka, pelukan yang sama kini meninggalkan dingin di tubuhku? Kamu meninggalkanku, dan aku tak pernah siap untuk kehilanganmu. Kehilanganmu bukan sekadar perginya seseorang dalam hidupku. Kehilanganmu adalah tentang diriku yang kian merapuh, bagian-bagian dari diriku yang tercerai-berai, seperti serpihan kaca yang tak tahu bagaimana akan kembali utuh. Aku mencoba menulis surat untukmu, berharap kata-kata bisa menggantikan kehadiran yang hilang. Namun, setiap huruf yang kutulis, hanya menambah luka, mengingatkanku pada rindu yang tak akan pernah sampai kepadamu. Mungkin, mencintaimu adalah keindahan sekaligus kutukan. Sebuah hadiah yang diiringi keperihan tanpa akhir. Dan di sinilah aku, yang dalam diam melangitkan namamu. Untukmu, yang kucintai dengan penuh Namun tak pernah menyadari kehadiranku. Buku ini sengaja ditulis untuk nama yang selalu kulangitkan namun enggan untuk menyambutku, yang hadirnya pernah membuat duniaku mekar dengan indah, yang kehilangannya membuat diriku merapuh bersama serpihan luka yang ia tinggalkan. Dan buku ini sekaligus dedikasi untuk mereka yang pernah kehilangan, untuk hati yang berani mencintai meski tahu akan terluka. Karena di balik setiap tetesan air mata, selalu ada cerita yang layak untuk diceritakan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines