Ramadhan Untuk Aksa

Ramadhan Untuk Aksa

  • WpView
    Reads 14,226
  • WpVote
    Votes 961
  • WpPart
    Parts 21
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 18, 2025
[ Brothership Story ] Aksa pikir, kehidupannya selama ini cukup membahagiakan. Meski berteman dengan obat-obatan, tapi binar senyum di wajah remaja 16 tahun itu jarang sekali pudar. Ia akan merasa bahagia untuk hal sekecil apapun, bahkan saat Ibunya sekedar menelpon dan bertanya hal sesederhana, 'Sudah makan, Sa?', anak itu akan tersenyum lebar memberi jawaban. Ya, cukup dengan mendengar suara sang Ibu dari kejauhan. Aksa juga merupakan anak yang penurut. Jarang sekali kata 'tidak' keluar dari bibir tipisnya. Ia hanya akan tersenyum lalu mengangguk. Untuk apapun itu. Tapi saat kedua bola matanya tanpa sengaja melihat kalender yang terpampang di dinding kamar rawat malam itu, Aksa mulai berpikir, mungkin ini saatnya ia meminta sesuatu. Sebelum waktu yang ia punya benar-benar habis, Aksa hanya ingin menuntaskan kewajibannya sebagai manusia yang memiliki Tuhan. Sekali saja. "Bang, puasa besok Aksa ikut, ya?" Meski nyatanya anak itu tidak pernah benar-benar merasakannya. ••••• Ramadhan Untuk Aksa, sebuah cerita singkat yang akan menyuguhkan kisah manis berbalut rasa sakit tentang dua manusia yang hanya memiliki satu sama lain, berusaha menjaga semestanya masing-masing. -malliakth
All Rights Reserved
#483
leukimia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DANADYAKSA
  • Dear Aksa
  • hopefully (TERBIT)
  • Asha's Notes [Tamat]
  • ABOUT WARA ✔
  • SEPARATED BROTHER [END]
  • the Edge.
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Bintang Kecil Diantara Derasnya Hujan

Danadyaksa adalah laki-laki dengan hidup yang sangat sederhana. Cibiran dan hinaan sering didapatkannya dari teman-teman satu sekolahnya terutama perempuan karena menggunakan sepeda motor beat berwarna hitam setiap berangkat sekolah. Orang tuanya meninggal ketika ia masih duduk di bangku SMP, meninggalkan dua orang adik yang harus Aksa hidupi. Menjadi Ayah, Ibu sekaligus kakak di usianya yang begitu belia bukanlah hal yang mudah. Aksa mulai bekerja semenjak orang tuanya meninggal untuk memenuhi kebutuhannya serta kedua adiknya yang masih kecil. Menjadi kuli bangunan, penjaga toko, pelayan restoran dan berbagai pekerjaan serabutan lainnya Aksa lakukan. Aksa pernah berkata: "Nggak papa gue nggak punya masa depan yang terjamin, tapi adek-adek gue harus punya masa depan. Harus jadi orang besar." Aksa tidak pernah memikirkan perihal cinta. Yang ia pikirkan hanyalah adik-adiknya. Bagaimana masa depan adiknya, bagaimana mendidik adiknya dengan baik dan bagaimana adiknya bisa menikmati hidup seperti anak lainnya yang penuh kebahagiaan dari keluarga. Namun, Aksa mulai tertarik dengan cinta semenjak ia mulai mengenal Alsava. Gadis yang dikenalnya sejak insiden Aksa yang tanpa sengaja menginjak kacamata Alsava. Tapi rasanya sangat tidak mungkin untuk memiliki Alsava yang latar belakang ekonominya sangat jauh beda dengan dirinya. Apakah mereka bisa bersama? Mungkin. Atau justru, tidak akan pernah bersama. ** "Sa, gue boleh suka sama lo, nggak?" "Tunggu gue sukses." ** "Gue kalo mau suka sama Alsava juga harus sadar diri. Gue orang nggak punya. Beda sama dia." ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines