Ramadhan Untuk Aksa

Ramadhan Untuk Aksa

  • WpView
    Reads 14,118
  • WpVote
    Votes 961
  • WpPart
    Parts 21
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 18, 2025
[ Brothership Story ] Aksa pikir, kehidupannya selama ini cukup membahagiakan. Meski berteman dengan obat-obatan, tapi binar senyum di wajah remaja 16 tahun itu jarang sekali pudar. Ia akan merasa bahagia untuk hal sekecil apapun, bahkan saat Ibunya sekedar menelpon dan bertanya hal sesederhana, 'Sudah makan, Sa?', anak itu akan tersenyum lebar memberi jawaban. Ya, cukup dengan mendengar suara sang Ibu dari kejauhan. Aksa juga merupakan anak yang penurut. Jarang sekali kata 'tidak' keluar dari bibir tipisnya. Ia hanya akan tersenyum lalu mengangguk. Untuk apapun itu. Tapi saat kedua bola matanya tanpa sengaja melihat kalender yang terpampang di dinding kamar rawat malam itu, Aksa mulai berpikir, mungkin ini saatnya ia meminta sesuatu. Sebelum waktu yang ia punya benar-benar habis, Aksa hanya ingin menuntaskan kewajibannya sebagai manusia yang memiliki Tuhan. Sekali saja. "Bang, puasa besok Aksa ikut, ya?" Meski nyatanya anak itu tidak pernah benar-benar merasakannya. ••••• Ramadhan Untuk Aksa, sebuah cerita singkat yang akan menyuguhkan kisah manis berbalut rasa sakit tentang dua manusia yang hanya memiliki satu sama lain, berusaha menjaga semestanya masing-masing. -malliakth
All Rights Reserved
#475
leukimia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Aksara Bercerita
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Bintang Kecil Diantara Derasnya Hujan
  • SACRIFIER | ONGOING and REVISION
  • Monokrom [Completed]
  • ADIKARA ELUSIF (END)
  • the Edge.
  • 𝐀𝐱𝐬𝐚 𝐀𝐫𝐢𝐧𝐝𝐫𝐚 [𝚃𝚛𝚊𝚗𝚜𝚖𝚒𝚐𝚛𝚊𝚜𝚒]
  • REYHAN || END

Reivan Artha Aksara atau Aksa, adalah anak bungsu yang lahir tepat di hari kematian ibunya. Sejak hari itu, ia dituduh sebagai pembawa sial. Ayahnya, Aji, tak pernah benar-benar memandangnya sebagai anak. Kakaknya, Andrinna, tumbuh dengan kebencian yang sama. Di dalam rumahnya sendiri, Aksa adalah asing. Namun, Aksa tidak pernah berhenti berharap. Dalam diamnya, ia belajar mencintai mereka yang membencinya. Dalam sakitnya, ia tetap berjuang untuk membuat keluarganya utuh kembali. Ia menyimpan penyakit ginjal yang dideritanya sejak remaja, menyembunyikan tangisnya dalam surat-surat dan halaman diary, sambil terus belajar menjadi kuat. Hidup membawanya ke Belanda sebagai siswa pertukaran pelajar-jauh dari rumah, jauh dari luka, tetapi dekat dengan cahaya baru. Di negeri asing itu, Aksa menemukan arti keluarga melalui teman-temannya, tawa yang jujur, dan cinta yang tulus. Namun takdir memiliki jalan lain. Penyakitnya kembali menyerang, dan di tengah perjuangan hidup dan mati, rahasia-rahasia masa lalu pun terungkap sang guru les yang selama ini membantunya ternyata adalah simpanan sang ayah. Semua luka yang tak pernah sembuh akhirnya berdarah kembali. Di saat-saat terakhir, Aksa memilih untuk memaafkan. Ia memberi pesan damai kepada semua yang menyakitinya, bahkan kepada ayah dan ibu tirinya. Ia ingin keluarganya tetap bersama, meski tanpa dirinya. Dan dengan senyum yang tulus, Aksa pergi... membawa semua luka, namun meninggalkan cinta. "Aku tak hidup lama, tapi aku hidup dengan sungguh-sungguh."

More details
WpActionLinkContent Guidelines