Story cover for BERANJAK DEWASA  by Bumiadristha
BERANJAK DEWASA
  • WpView
    Reads 2,701
  • WpVote
    Votes 1,018
  • WpPart
    Parts 21
  • WpView
    Reads 2,701
  • WpVote
    Votes 1,018
  • WpPart
    Parts 21
Ongoing, First published Apr 07, 2022
"Loh, kok pegangan gak jadi mau mati? Katanya capek sama hidup, kenapa gak di lepas? Gue bantu lepas yah." 

"Tolong, gue mohon-"

Arshaka Satria Pratama, siswa SMA Pradita Dirgantara yang terkenal akan keceriaannya itu memiliki nasib tak seceriah senyumnya. Malam itu Shaka memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang tak berharga, semuanya berjalan lancar hingga sosok Senja Putri Pradita Dirgantara anak dari pemilik sekolah itu datang kehadapannya dan melakukan hal tak terduga.

Shaka mengira Senja akan menghentikan aksinya dan membujuk dia dengan kata-kata mutiara seperti kebanyakan orang yang dia temui. Tapi sayang, Senja tak melakukan itu, gadis tersebut malah mendorongnya jatuh dan melepaskan genggamannya pada besi jembatan.

Malam itu Shaka terjatuh dari tingginya jembatan dan menyelam pada kedalaman belasan meter dinginnya air sungai. Setelah kejadian itu apa Shaka mati tenggelam bersama dengan masalah yang dia alami? Apa Senja merasa bersalah atas tindakannya yang membantu aksi bunuh diri Shaka? Jika kamu menjadi Shaka apa kamu akan menyerah dengan masalah hidup atau bertahan dengan harapan bahwa suatu saat nanti kamu akan bahagia?
All Rights Reserved
Sign up to add BERANJAK DEWASA to your library and receive updates
or
#338shaka
Content Guidelines
You may also like
Raga Arga  [Sudah Terbit] by aksara_jiwa
54 parts Complete
Jika ditanya apa yang spesial dari kehidupan si kembar, Raga dan Arga, mungkin jawabannya tidak ada, andai keduanya tidak pandai-pandai bersyukur. Bagaimana tidak, kepergian sang bunda menjadi titik awal kehidupan mereka yang sesungguhnya. Getir pahit melekat di dalamnya. Arga disalahkan oleh neneknya atas kepergian sang bunda. Lantas rasa bersalah dan trauma yang begitu besar terpatri kuat dalam dirinya, sejak saat itu hidupnya berubah seiring dengan jiwa yang bergonta-ganti mengisi raganya. Kadang, ketika bangun tidur Arga akan merengek layaknya anak kecil yang mencari bundanya. Kadang juga Arga menjadi sosok yang membenci dirinya sendiri, menghancurkan cermin yang ada di kamarnya, lalu berujung menyakiti dirinya sendiri. Raga, nyatanya wajah tampan dan unggul dalam basket tak lantas membuatnya dipandang. Bagi teman sekelasnya, Raga tak lebih dari sampah yang harus cepat-cepat dibersihkan. Bukan Raga tak mau melawan mereka, hanya saja rasanya percuma, mereka terlanjur menjadi budak sekolah yang gila nilai. Lalu, mampukah keduanya menjalani dan melawan segala getir pahit dalam kehidupan? Atau memilih menyerah, berpasrah pada Tuhan? *** Bukan skenario hidup seperti ini yang aku inginkan, memerani tiga tokoh sekaligus dalam satu kali kesempatan hidup. Andai bisa aku ingin terlahir kembali menjadi aku yang hanya satu- Samudra Arga Pratama Aku lelah menjadi senja yang ditunggu dan dikagumi di penghujung waktuku-Samudra Raga Dwitama *** Takkan gugur daun yang menguning itu jika memang belum habis waktunya. Takkan turun rintik hujan itu sekalipun langit telah menggelap jika memang belum saatnya. Pun dengan jantung yang takkan berhenti berdetak jika memang Tuhan belum berkehendak.
You may also like
Slide 1 of 8
Raga Arga  [Sudah Terbit] cover
DILEMA CINTA [END] COMPLETED cover
Nathalea cover
HANYA AKU DAN KAMU cover
A Hundred Days Closer [On Going] cover
Senja Untuk Amara (TAMAT) cover
aku, Kamu dan senja [On Going] [Revisi]  cover
𝑨𝑹𝑨𝑲𝑯𝑨 [TERBIT] cover

Raga Arga [Sudah Terbit]

54 parts Complete

Jika ditanya apa yang spesial dari kehidupan si kembar, Raga dan Arga, mungkin jawabannya tidak ada, andai keduanya tidak pandai-pandai bersyukur. Bagaimana tidak, kepergian sang bunda menjadi titik awal kehidupan mereka yang sesungguhnya. Getir pahit melekat di dalamnya. Arga disalahkan oleh neneknya atas kepergian sang bunda. Lantas rasa bersalah dan trauma yang begitu besar terpatri kuat dalam dirinya, sejak saat itu hidupnya berubah seiring dengan jiwa yang bergonta-ganti mengisi raganya. Kadang, ketika bangun tidur Arga akan merengek layaknya anak kecil yang mencari bundanya. Kadang juga Arga menjadi sosok yang membenci dirinya sendiri, menghancurkan cermin yang ada di kamarnya, lalu berujung menyakiti dirinya sendiri. Raga, nyatanya wajah tampan dan unggul dalam basket tak lantas membuatnya dipandang. Bagi teman sekelasnya, Raga tak lebih dari sampah yang harus cepat-cepat dibersihkan. Bukan Raga tak mau melawan mereka, hanya saja rasanya percuma, mereka terlanjur menjadi budak sekolah yang gila nilai. Lalu, mampukah keduanya menjalani dan melawan segala getir pahit dalam kehidupan? Atau memilih menyerah, berpasrah pada Tuhan? *** Bukan skenario hidup seperti ini yang aku inginkan, memerani tiga tokoh sekaligus dalam satu kali kesempatan hidup. Andai bisa aku ingin terlahir kembali menjadi aku yang hanya satu- Samudra Arga Pratama Aku lelah menjadi senja yang ditunggu dan dikagumi di penghujung waktuku-Samudra Raga Dwitama *** Takkan gugur daun yang menguning itu jika memang belum habis waktunya. Takkan turun rintik hujan itu sekalipun langit telah menggelap jika memang belum saatnya. Pun dengan jantung yang takkan berhenti berdetak jika memang Tuhan belum berkehendak.