We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Drive You Home | Park Jisung

Drive You Home | Park Jisung

  • WpView
    Reads 332
  • WpVote
    Votes 29
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 8, 2023
WpInfo
Fanfic
NCT
[Beside Stories of When We Go Hazy | Zhong Chenle] "For the two of us, home isn't a place. It is a person. And we are finally home." -Stephanie Perkins Memasuki usia 17, Rei merasa hidup sepenuhnya menjadi miliknya tanpa ada batasan dan kekangan yang menghalangi. Namun sayangnya gadis itu tidak pernah memperhitungkan mekanisme kejamnya dunia dan takdir yang selalu akan bekerja tanpa bisa dihindari, hingga di satu titik, dia bisa saja terjatuh dan ditinggalkan. Tetapi pemilik semesta yang Mahabaik selalu punya sesuatu untuk Rei. Terlepas dari sikap angkuhnya yang memuakkan, gadis itu masih selalu punya seseorang yang secara magis mampu menemukannya dimanapun. Sosok yang bergegas mengulurkan tangan atau memeluknya erat-erat sebelum berkata, "Let me drive you home tonight." Dia Lintang Azura.
All Rights Reserved
#385
ive
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Dua cangkir satu Meja
  • It's Always Been You✔️
  • Surat Dimas [TAMAT]
  • LUMIÈRE [Slow Up]
  • Karakter Sampingan (Haechan)
  • My STEPBROTHER X Na Jaemin
  • 𝙆𝘼𝙏𝘼 𝙎𝙀𝙈𝙀𝙎𝙏𝘼 ✔ [𝗣𝗿𝗼𝘀𝗲𝘀 𝗥𝗲𝘃𝗶𝘀𝗶]
  • Difficult Way To Loving You | Jichen
  • Tuhan, Jaga Dia || Park Jisung

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines