We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Ordinary Me

Ordinary Me

  • WpView
    Reads 31
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 24, 2024
WpInfo
Fiction
Fantasy
Terkadang sesuatu yang dinilai tak penting oleh orang lain, namun menurut sebagian orang lainnya itu hal yang amat penting. Walau sekedar di beri pertanyaan "bagaimana hari ini?" atau sekedar "kamu oke kan?" pertanyaan kecil dan bisa dibilang hanya basa basi, bisa membuat orang merasa diperhatikan dan memiliki eksistensi di dunia ini. Dia kecil tak begitu terlihat apabila dikeramaian, apalagi dengan diamnya, menambah semakin samar dirinya. Bukan tanpa alasan mengapa membisu, mungkin karena pengalaman di masa lalu. Sekali lagi dia kecil, memiliki tubuh yang biasa saja jika dikatakan body goals, emm sangat jauh. Biar lebih jelas namanya Leyta, dan ya hanya Leyta. Dia gadis kecil biasa saja memiliki tubuh mungil dengan segala luka baik batin atau fisiknya, gadis naif yang selalu bermimpi memiliki keluarga yang memperlakukan bak putri di kerajaan dongeng. Sekali lagi dia Leyta gadis kecil dengan segala kesialannya karena salah sasaran keluarga terpandang, yang dia kira akan membawanya kedalam istana, namun hanya fana dengan sandiwara besar di dalamnya. Keluarga Chaturbhuj sesuai dengan arti namanya kuat, keluarga yang memiliki kedudukan terkuat di negeri ini, dimana rata-rata anggota keluarga ini memiliki fisik maupun mental yang kuat, namun terdapat satu permata yang begitu mereka lindungi. - "Makasih Daddy, Mommy, Abang dan semaunya. Ley seneeeeeng banget bisa ketemu kalian" ~Leyta - "Balas dendam terbaik terhadap musuh adalah ketika kamu bisa menjadi orang paling di sayanginya, lalu bunuh dia secara perlahan" ~Chaturbhuj Namun dengan semua skenario yang terkemas apik, apakah Leyta dan keluarga Chaturbhuj pemeran utamanya? Bukan, cerita ini tentang dia yang sesungguhnya Skycy, ya dia pemeran utama cerita ini.
All Rights Reserved
#985
adek
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ADIKARA ELUSIF (END)
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • 'Our Sun' : Elanza Nassa
  • HAZKI ; Danendra's Little Angel [✓]
  • Second Life : Ersya
  • Permata Kesayangan Adhinata👑
  • luka si bungsu | END.
  • A Life That Turns

Baca DeKaNa terlebih dahulu, ini S2 nya DeKaNa🔥 "M-maksudnya apa?" Ekspresi wajah yang semula terlihat senang berganti menjadi rawut wajah yang amat tidak disukai, seolah perubahan mimik wajah mempengaruhi suasana hati sang pemilik Perlahan sudut bibirnya ketarik ke pinggir membentuk lekungan senyuman yang terlihat menyeramkan bagi remaja yang berdiri di hadapannya, bahkan bola matanya terlihat bergetar melihat apa yang tengah terjadi di hadapannya. "Hanya seminggu" Kakinya perlahan melangkah mendekati remaja yang sudah membeku di tempat itu, mengayunkan tangannya untuk mengusap puncak kepala yang lebih muda "Sayang sekali, Khai nggak panggil Ayah-" Plak Ia menatap tangannya kemudian menatap anak yang lebih muda di hadapannya dengan alis mata terangkat, berani, sangat berani "L-lo gila" "Lo bawa gue kemana hah anjing?" Ia memejamkan matanya, sudah seminggu ini hatinya berbunga-bunga, namun sekarang api neraka kembali membakar hatinya mendengar lontaran perkataan dari anak muda yang ada di hadapannya. Srett "Kenapa lo diam aja hah?, jawab!, lo bawa kemana gue hah?" Teriaknya dengan nafas tersenggal-senggal karena perasaan marah. Ia kembali tersenyum, mencoba mengusap puncak kepala itu namun tepisan kembali dirinya dapat, oke cukup, ia sudah sangat sabar kali ini, "Askar ternyata nggak guna" Perlahan kaki itu mendekati remaja itu, lalu mengusap paksa kepala itu dengan kuat, dan dalam sekali tarikan ia berhasil membuat tulang tengkorak itu bersentuhan kasar dengan dinding rumah kokoh miliknya "Lo manja banget ya Kai, semua harus gue yang turun tangan" Ucapnya sembari menyeringai melihat ekspresi wajah Kaivan yang terlihat kesakitan sekaligus marah karena tidak bisa melawan.Tubuh itu jatuh telentang di lantai, dan tanpa belas kasihnya, ia menaruh telapak kakinya di atas dada Kaivan yang seketika membuat anak itu meringis sakit karena tak mampu menahan rasa sakit lagi "A-abang" "Kalau udah kek gini, baru manis diliat" 19 April 25

More details
WpActionLinkContent Guidelines