Senjangga

Senjangga

  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 2, 2022
"Dipertemukan hanya sebagai pelengkap, dijauhkan meninggalkan luka." ... Mencari keberadaan sosok ibu? Awal yang baik? Akhir mengejutkan? Semua terjadi pada gadis broken home. Ia memiliki banyak bakat, dan prestasi, selalu di puji. Tapi tidak ada yang tau latar kehidupanya. Berjalan di jalan penuh duri seorang diri. Menjaga rahasia hidupnya seorang diri. Berbeda saat orang itu datang, ia mulai melupakan masalah nya. Yang selalu memperhatikanya, melindunginya, mengkhawatirkan, dan selalu ada di sisi nya. hingga rasa itu datang. Tapi takdir yang ditulis di hidupnya, tidak sesuai dengan impian nya bersama dengan nya. Mereka akan menjalankan kehidupan masing-masing, hanya sebagai teman, ataupun saudara. "Kau hanya sebagai senderan ku sementara, dan menjadi senderan nya untuk selamnya." "Jika saja bukan karna ada ikatan ini, aku juga tidak akan mau berpisah dengan mu." ~••~ Follow sebelum membaca ;) Tinggalin jejak kaliannn! update kalau ada waktu :v Happy All😃
All Rights Reserved
#138
duka
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Echoes Of Goodbye (END)
  • NEVER CHANGE ME & YOU
  • ECCEDENTESIAST (COMPLETED)
  • 𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐒𝐞𝐧𝐣𝐚 [Sudah Terbit]
  • Bayi Dosenku 2
  • BAM || Betapa Aku Mencintaimu (End)
  • HIDDEN I (The End)
  • Masih Sama
  • Sepasang Sepatu Tanpa Arah [END]
  • 24/7 (HIATUS)

Sembuh bukan tentang menemukan cinta baru, bukan pula tentang melupakan jejak yang pernah tertinggal. Sembuh adalah seni merangkul luka tanpa membiarkannya menguasai, membiarkan kenangan tetap ada tanpa menjadikannya belenggu. Bukan proses yang bisa kupaksa atau percepat, melainkan perjalanan sunyi yang penuh riak-riak ingatan-tentang tawa yang dulu menghangatkan, tentang janji-janji yang kini hanya gema di lorong waktu. Aku tahu, kamu pernah menjadi rumah, tempatku pulang tanpa ragu. Namun, rumah itu kini hanya bayangan, berdinding sunyi dan berisi ruang-ruang kosong yang tak lagi menyambutku. Aku tidak ingin menghapus setiap memori, karena bagiku, kenangan adalah musim yang datang dan pergi-tak perlu diusir, hanya perlu diterima. Maka aku memilih berjalan, bukan untuk meninggalkan, tapi untuk melangkah dengan luka yang sudah kujinakkan, dengan hati yang tidak lagi mencari, tapi mengerti bahwa tidak semua yang hilang harus ditemukan kembali. -Sharfina

More details
WpActionLinkContent Guidelines