Nadlyne

Nadlyne

  • WpView
    Reads 24
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Apr 15, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
"Nad, Nad!" "Oiit, apaan?" "Baju yang lo colong dari lemari gue, itu baju temen gue." "Hah?!! Yang bener lo Om? Nasib gue gimana? Udah dikampus." "Ya salah lo, kebiasaan banget jadi anak gadis geratakin barang orang aja." "Mampus gue Om, mau masuk. Tauk deh, urusan ntar. Ada yang lebih urgent!", telepon langsung gue matiin. *** Kayaknya gue emang lagi sial hari ini. Niat hati pingin seneng-seneng di Mall cuci mata, siapa tau ada Namjoon KW. Apesnya, gue ketemu sama yang punya baju waktu papasan sama Om gue. Mampus! Muka gue mau tarok dimanaa?!!!
All Rights Reserved
#155
kulkas
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jomblo di eskul Pramuka
  • 99 Days with Pak Dosen [END]
  • VAGALDARA [TERBIT]
  • ARKAN |END| Belum Revisi
  • Renata Keyla ✔
  • Possesive Playboy
  • Lucky ㅡ [COMPLETED]
  • MY ADORABLE NEIGHBOR
  • Silent, Please! (Re-up)

"Mulai hari ini kamu ibu masukkan ke dalam eskul pramuka, bahagialah!" Entah kenapa di akhir kalimat, pengucapan ibu Fatimah begitu menekan ke dalam jantungku. "Tung--Tunggu dulu bu. Saya belum pernah menyetujuinya" "Apakah itu harus?" Nada dingin dan sentuhan tangan beliau langsung menjalar ke urat nadiku "I--itu tergantung dengan situasi dan persepsi dari--" "Mana jawabanmu?" "Baik bu" Sial... Kenapa mulutku tak memikirkan nasibku yang akan datang. "Yaah, ibu tau kamu malu kok" (Bu! Hentikan omong kosong anda) Begitulah kalau aku punya nyali untuk mengucapkannya. "Nandi, mulai hari ini, dia bergabung dengan eskul pramuka" Ibu Fatimah mendekati seorang wanita yang dari tadi memperhatikan kami. Kalau aku bilang, lebih seperti seorang anak kecil sedang memperhatikan anak kecil lainnya yang sedang dipaksa oleh orang yang lebih tua. Entah apa yang mereka bisikkan di sana, tapi aku yakin, pasti itu bersangkutan dengan privasi yang kujaga lebih dari apapun. "Dimas, Nandi juga setuju dengan ini. Jadi kau sepulang sekolah bisa langsung ke ruang pramuka nanti" Lalu beliau tersenyum. Entah kenapa senyuman tersebut mempunyai maksud yang berbeda dari apa yang dia katakan sebelumnya "Jangan kabur ya..."

More details
WpActionLinkContent Guidelines