August, Echoes of the Past

August, Echoes of the Past

  • WpView
    Reads 653
  • WpVote
    Votes 75
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Aug 30, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Beberapa hal tak pernah benar-benar selesai. Bagi Arakarsa, Astrid adalah salah satunya. Dulu, ketika segalanya mulai berubah, ia memilih mundur. Menjauh perlahan dari perasaan yang tak berani ia beri nama. Ia pikir itu cara paling aman, untuknya, untuk Astrid, untuk hubungan yang terlalu berharga untuk dipertaruhkan. Tapi waktu tak serta-merta menyembuhkan. Justru membuat kenangan tumbuh diam-diam, menyesaki hari-hari yang tampak biasa. Tiga tahun berlalu. Kini, saat semesta mempertemukan mereka lagi, tak ada jaminan luka sudah sembuh, atau rasa itu telah reda. Yang tersisa hanyalah kemungkinan, untuk memperbaiki, atau benar-benar melepaskan. Karena kadang, yang paling menyakitkan bukan kehilangan ... tapi ketidaktahuan. "Bagaimana jika dulu kita mencoba?" ~~~~~~~~~☕ Written by ©unseaworld. 30 Agustus 2024.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Time
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • I'm Not Just a Figuran
  • GHAIKA (REVISI)
  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • Tsundere Maniak Susu
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • Transmigrasi Ziora
  • GRAVARENZO
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
The Time

Tiga tahun Jeselyn Ananta menghabiskan waktunya mengejar bayang-bayang tunangan nya, Leon Gamalio. Baginya, Leon adalah segalanya. Namun, malam itu mengubah segalanya. Hantaman keras sebuah truk di persimpangan jalan gelap membuat nya berada di ambang maut, dalam koma yang panjang, jiwa Jeselyn melayang masuk ke sebuah masa depan yang tak pernah ia bayangkan. Ia melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih dewasa, lebih rapuh, dan hancur di tengah kemewahan sebuah rumah megah. "Mau ke mana lagi?" tanya Jeselyn masa depan dengan suara serak akibat tangis. "Menemani wanita yang sedang mengandung anakku," jawab Leon dingin, tanpa sedikit pun menoleh. Kenyataan pahit itu menghujam jantung Jeselyn. Pernikahan yang ia impikan ternyata hanyalah penjara tanpa cinta.

More details
WpActionLinkContent Guidelines