Petrichor (Lee Jeno)

Petrichor (Lee Jeno)

  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 8, 2022
Tidak ada yg sempurna bukan, jika kita diciptakan sebagai makhluk Tuhan? Bahkan untuk mendekati kesempurnaan, bisa saja membutuhkan pelengkap. Seorang lelaki yang banyak mata memandang sebagai seorang yang sempurna, ternyata jauh dari dugaan mereka. Langkahnya selalu sepi, laranya terlalu dalam. Hingga seseorang datang melengkapi hidupnya. Perlahan semua kembali menemukan titik untuk menuju kesempurnaan. Namun lagi-lagi, yang terlihat sempurna ternyata tetap akan sirna. Meski Arsa mencintai Zayana setulus hatinya, dan tak ingin kehilangan wanita yang dicintai, perjalanan keduanya tak akan ada yang bisa meramalkannya. "Kenapa kita nggak pacaran?" Tidak ada jawaban, Arsa geming. Baginya hal itu bukan perkara penting yang perlu untuk dibesarkan. "Aku nggak mau kita putus. Sampe kapan pun," Arsa tercekat mendengar ucapannya sendiri. Andai Zayana mengerti, betapa lelaki itu mendambanya sejak pertama kali mereka bertatap mata. Andai gadis itu paham, bahwa Arsa menjadikannya sebagai tujuan hidupnya dengan mimpi menjadi tua bersamanya. Ini bukan hanya bualan remaja yang sedang di mabuk asmara. Ini perasaan tulus dari Arsa, hanya untuk Zayana.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di Pertemukan
  • Arkansa
  • troublemaker VS ketos! ✔
  • Ex or New? [REVISI]
  • My Ustadz My Crush [SELESAI]
  • SEIMAN SEPELAMINAN
  • JANUARGHA
  • Terjebak di Ruang Hampa
  • Senja dan Jingga
  • Casual Heart

Hidup bukan tentang seberapa cepat kita sembuh, tapi tentang seberapa tulus kita memilih untuk terus melangkah, meski dalam keadaan belum pulih sepenuhnya. Caca bukan gadis yang sempurna-dan ia tidak sedang berusaha untuk menjadi satu. Ia hanya ingin belajar berdamai dengan masa lalu, dengan dirinya, dan dengan dunia yang dulu terasa terlalu bising untuk hatinya yang rapuh. Selama bertahun-tahun, ia hidup dalam ketakutan yang tak bisa ia ungkapkan. Ia menyimpan amarah, kecewa, dan keraguan pada dirinya sendiri. Tapi pelan-pelan, langkah kecilnya membawanya keluar dari gelap yang lama membungkusnya. Bukan karena semua rasa sakit itu tiba-tiba hilang, tapi karena kini ia tahu bahwa ia tidak sendiri. Melalui kegiatan OSIS, ia belajar suara dirinya juga berharga. Lewat pengalaman volunteer, ia tahu bahwa memberi bukan soal mampu atau tidak, tapi tentang peduli. Dan lewat kehadiran Aji, ia mulai memahami bahwa ia layak dicintai-tanpa syarat, tanpa harus menjadi orang lain. Caca mungkin tidak akan pernah benar-benar melupakan luka yang dulu, tapi kini ia tidak lagi membiarkan luka itu mengatur jalan hidupnya. Ia menoleh ke belakang bukan untuk tenggelam dalam kenangan, tapi untuk mengingat betapa jauh ia sudah melangkah. Ia bukan lagi gadis kecil yang hanya bisa diam saat disakiti-ia telah menjadi pribadi yang tahu cara mencintai, terutama mencintai dirinya sendiri. Pada akhirnya, DiPertemukan bukan sekadar cerita tentang cinta antara dua orang. Ini adalah kisah tentang pertemuan-pertemuan yang membawa makna. Pertemuan dengan teman baru, pengalaman baru, dan yang paling penting-pertemuan dengan jati diri yang selama ini tersembunyi. Caca tidak diselamatkan oleh siapa pun. Ia memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri... dan itu adalah bentuk keberanian yang paling indah. Penulis Calista Maulidina Syofyan

More details
WpActionLinkContent Guidelines