SURGA YANG TERLUPAKAN

SURGA YANG TERLUPAKAN

  • WpView
    Reads 151
  • WpVote
    Votes 22
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Apr 25, 2022
Kafka menyipitkan mata saat menginjakkan kaki ke pekarangan rumah. Raut wajah sang bunda serta sosok yang tengah berdiri di hadapannya membuat pemuda itu mempercepat langkah. Menyadari ada yang datang, wajah Marisa berubah cemas saat memandang sosok yang tertinggal di belakang putranya. "Mau apa kemari?" tanya Kafka dingin, walau sosok setengah baya di depannya mencoba tersenyum menyambut. "Kamu sudah besar, Nak." "Tidak perlu basa-basi." Bahkan Kafka pun enggan menatap wajahnya.
All Rights Reserved
#191
kayla
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING
  • FEARLESS || JAYISA
  • Suara yang Terkunci
  • Our September Moments (Complete)
  • DENIAL
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||
  • GANGSTA
  • MY IDOL GIRLFRIEND ( ZEESHA )

"Jangan menatapku". Abrar masih dengan mata terpejam "Kenapa ?" " Nanti kau bisa lupa pada pacar mu". "Pfffffpfffff" Awinda mengantupkan kedua bibirnya mencegahnya tertawa lebar. "Kau benar ". " Jadi kau sudah punya pacar". " Kau mengintrogasi ku ". Kini Awinda membalasnya. Abrar menelan Salivanya. Terdiam dalam senyapnya. Ia tak ingin melanjutkan pertanyaan apapun. Karena jika ia banyak tahu kenyataan, maka bisa jadi hal - hal pahit yang akan ia dapatkan. Hidup mengajarkannya untuk sering menerima kenyataan pahit ketimbang mengharapkan sesuatu yang ternyata hanya sebatas angan dan impian. "Cepat tidur". "Belum mengantuk" sahutnya cepat. " Kenapa kau biarkan aku mengambil baju dan celana mu padahal kamu punya tenda ini. ? Bodoh ". " Ambil lah apapun yang kau mau dari ku". " Sejak kapan kau menjadi buaya ? " " Setelah masuk kedalam lubang tanah dan bertemu ratu buaya ". Awinda mencubit perut Abrar. Sehingga ia menggelinjang nyeri dan meminta ampun. Ia meraih tangan Awinda dari perutnya dan meletakkannya didadanya. " Tidurlah, ini peringatan ku yang terakhir". Perlakuan Abrar membuatnya meringis, kini Abrar juga mulai mengamcamnya. Berusaha memejamkan mata dan perasaan hangat itu kembali menjalar ulu hatinya. Ia kesulitan untuk menarik nafas namun ia mencoba menghirup udara lewat mulutnya lalu mengeluarkan kembali perlahan. " Kau kedinginan ? " Abrar membuka suara, " Hmmm " "Kau bisa terkena hipotermia dan sulit bernafas".

More details
WpActionLinkContent Guidelines