"Jika kamu mencintai seseorang, apa kamu akan menyesalinya?
Sahabat namun cinta, begitulah yang Elmyra rasakan setiap kali bersama sosok dirinya. Dia yang tidak pernah absen dari cerita hidupnya sejak SMP, dia yang membuat Elmyra menyusun kata - kata indah untuk mendeskripsikan sosoknya. Jika dulu Elmyra suka memandang geli orang - orang yang jatuh cinta selalu berlebihan dalam mendeskripsikan pasangannya, kini dia melakukan hal sama. Laki - laki itu tampan, baik, lucu, pintar, keren, semua kata - kata indah di kamus Elmyra tujukan padanya.
Rasa kagum, bahagia, dan cinta yang ia rasakan menghasilkan keinginan memiliki semakin besar. Saat perasaan itu datang, Elmyra akan duduk di teras sembari memandang ke atas langit, beharap, berdoa jika keinginan itu akan terkabul.
Bunga mawar tercantik yang pernah ia jumpai, begitulah isi pikiran Azka ketika melihat sosok perempuan di hadapannya. Baik dari paras hingga tingkah laku gadis itu, membangun perasaan hangat nan aneh di dalam hati. Ingin rasanya Azka bergelayut manja, bercinta, memiliki sosok gadis itu. Dia mendambakan memeluk tubuh berdurinya, meski itu sakit, dia rela melakukannya demi merasakan degup hatinya. Namun, entah karena dia tak fasih menyusun kata atau emang dia tidak siap mengutarakan cinta, dia hanya bisa memuja dan melakukan apa saja untuk bunga mawar indah itu. Meskipun itu harus menghancurkan bunga - bunga lainnya.
"Noona mau apa?"
"Kumohon jangan mendekat!" Tanya Ji-Sung pria itu mulai kelihatan panik dengan apa yang terjadi saat ini.
"Temani aku tidur, aku terbiasa tidur dengan memeluk seseorang dulu baru aku bisa tidur!" Ucap Karina, ucapan Karina membuat sistem kerja otaknya kembali tak berfungsi dengan baik hingga ia tak bisa berfikir tentang mana yang baik dan tidak baik, mengingat begitu banyak yang ia pikirkan saat ini.
"Noona, apa kau tau bahwa semua ini adalah salahmu!"
"Kalau saja kau tidak mabuk, semuanya pasti akan baik² saja!" Ji-Sung menarik kembali tangannya dan meluapkan marahnya pada Karina,pria itu mulai berdiri dan kedua matanya memerah menahan emosi. Ji-Sung menatap tajam Karina, sementara gadis itu hanya menatapnya polos membuat tingkat frustasi jisung semakin memuncak, dengan lemas ia kembali duduk disofa dan menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, dalam hidupnya ini pertama kalinya ia marah seperti ini, Karina benar-benar membuat emosinya meledak. Ia bahkan merasa sedikit bersalah karena sudah berteriak didepan Karina, gadis yang lebih tua 2 tahun darinya, harusnya ia tak membentak gadis itu namun itu tadi diluar kendalinya.