Lost Memory

Lost Memory

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Apr 21, 2022
WpInfo
Fanfic
Semua bermula ketika kebebasan terenggut oleh sebuah ikatan yang dibuat dengan alasan kepentingan kedua keluarga, mereka membiarkan banyak hati terluka. Masa muda yang penuh kepalsuan sudah layaknya benang kusut yang mungkin masih bisa mereka iklas kan namun bagaimana kalau nyatanya kehidupan yang mereka jalani saat ini pun hanyalah layaknya sebuah drama? Kebenaran yang terlupakan seakan semakin ditutupi dengan alasan kebaikan adalah hal yang paling tidak bisa dimaafkan. Belum lagi dendam masalalu yang perlahan muncul kepermukaan yang bisa mematikan kapan saja. Akankah ada ahir yang bahagia?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Erlangga
  • Lotus ⚠️ End
  • STAY or LEAVE | SURENE [END]
  • Together with The Sundown
  • di antara langit dan lukisan [ NOREN ]
  • Alam Byantara
  • Memory in My Heart [END]
  • Embrace again, Arnan
Erlangga

Erlang selalu berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa ia genggam erat. Bahwa ketika dua orang saling mencintai, mereka akan tetap bertahan, apa pun yang terjadi. Tapi nyatanya, itu hanya keyakinan naif yang perlahan hancur di hadapannya. Pacarnya pergi karena dia sudah menemukan yang baru. Semua janji, semua rencana masa depan, semuanya runtuh dalam sekejap. Erlang hanya bisa menatap kepergiannya, bertanya dalam hati, "Apa aku kurang baik?" Belum juga ia berdamai dengan kehilangan itu, takdir menamparnya lebih keras. Sahabatnya, satu-satunya orang yang mengerti dia tanpa banyak bicara, pergi-bukan karena memilih, tapi karena kehidupan memutuskan demikian. Kali ini, kepergian itu benar-benar untuk selamanya. Tidak ada kesempatan untuk meminta maaf, tidak ada lagi tawa yang bisa dibagi. Ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, kehilangan orang yang selalu ada untuknya-Erlang berpikir, mungkinkah ia memang ditakdirkan untuk sendiri? Namun, di tengah kehancurannya, ada satu orang yang tetap di sisinya. Seseorang yang tak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus mendengar. Sahabat yang tidak pernah menjanjikan apa pun, tapi selalu ada tanpa diminta. Dan dari sana, tanpa Erlang sadari, luka yang ia pikir tak akan sembuh perlahan mulai menemukan cahaya. Cinta yang ia kira sudah mati, ternyata masih punya kesempatan untuk hidup kembali. Apakah Erlang siap membuka hatinya lagi? Atau masa lalu akan terus menghantuinya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines