RAGA
  • WpView
    Reads 56
  • WpVote
    Votes 32
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Sep 1, 2022
WpInfo
Fiction
Social Themes
"Yang mengendalikan raga itu emosi, dan yang mengendalikan jiwa itu pikiran." Ucapan Eyang terdengar sangat jelas di telingaku. Saat aku mulai sadar dan kembali memusatkan pikiranku pada satu titik, raga. Cepat atau lambat, aku harus kembali pada raga asliku yang saat ini sedang tertidur, sedangkan jiwaku sekarang masih berkeliaran disekitarnya. Roh diriku keluar. Eyang mengatakan, ini adalah bentuk karma kekuatan jahat yang dikirim padaku oleh orang anonim, yang mungkin orang itu tidak senang dengan keberadaanku. Karena hal itu, aku berjuang untuk bisa kembali hidup tanpa merasakan hal jahat yang menyerang tubuhku dengan berbagai kesakitan. Namun ternyata, semuanya tidak semudah yang aku pikirkan. Hal yang datang ini bukan hanya terkait pada diriku, melainkan hasil yang dimulai oleh Eyang sendiri.
All Rights Reserved
#626
supranatural
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Larasati- Napas Dari Masa Lalu
  • serpihan hati
  • psychologycal
  • My (boy) Friend | Bbyu Vol.1
  • THE DEMONIC YOUNGEST DAUGHTER
  • Senja Yang Tak Kembali
  • A DIARY OF "I AM HEAL"
  • I Became The Antagonist
  • JIWA
  • Soecian

"Ada napas yang tertinggal di masa lalu. Larasati hanya perlu mendengarkannya." Larasati selalu merasa asing di dunia yang ia pijak-seperti ia pernah hidup di tempat yang berbeda, pada waktu yang tak bisa dijelaskan. Dalam diamnya, ia menyalakan lilin... dan dari nyala itu, masa lalu mulai berbicara. Suara-suara dari kehidupan sebelumnya datang perlahan: tentang seorang tabib wanita yang merawat bayi dan jiwa manusia, tentang putri seorang Tumenggung yang tak pernah dikenang sejarah, dan tentang lelaki bernama Raka yang jiwanya terasa begitu akrab. Saat ingatan mulai terungkap satu demi satu, Larasati harus memilih: melupakan semuanya... atau mengikuti bisikan yang menuntunnya pulang. Larasati: "Raka, aku merasa ada yang lebih dari sekadar lilin ini. Sepertinya, mereka membawa sesuatu yang lebih dalam... sesuatu dari masa lalu." Raka: "Aku merasakannya juga. Seperti kita pernah terhubung, meski kita tidak tahu bagaimana."

More details
WpActionLinkContent Guidelines