RAGA
  • WpView
    Reads 55
  • WpVote
    Votes 32
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Sep 1, 2022
"Yang mengendalikan raga itu emosi, dan yang mengendalikan jiwa itu pikiran." Ucapan Eyang terdengar sangat jelas di telingaku. Saat aku mulai sadar dan kembali memusatkan pikiranku pada satu titik, raga. Cepat atau lambat, aku harus kembali pada raga asliku yang saat ini sedang tertidur, sedangkan jiwaku sekarang masih berkeliaran disekitarnya. Roh diriku keluar. Eyang mengatakan, ini adalah bentuk karma kekuatan jahat yang dikirim padaku oleh orang anonim, yang mungkin orang itu tidak senang dengan keberadaanku. Karena hal itu, aku berjuang untuk bisa kembali hidup tanpa merasakan hal jahat yang menyerang tubuhku dengan berbagai kesakitan. Namun ternyata, semuanya tidak semudah yang aku pikirkan. Hal yang datang ini bukan hanya terkait pada diriku, melainkan hasil yang dimulai oleh Eyang sendiri.
All Rights Reserved
#681
supranatural
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senja Yang Tak Kembali
  • THE DEMONIC YOUNGEST DAUGHTER
  • psychologycal
  • Suaka Margagaib
  • serpihan hati
  • Who Is Called A Bird?!  || [Vol.1]
  • Transmigration || BABYMONSTER (END)
  • Diary INDIGO
  • A DIARY OF "I AM HEAL"
  • I Became The Antagonist

Senja selalu punya cara untuk mengingatkanku padanya. Pada warna jingga yang memudar perlahan, pada langit yang semakin gelap, dan pada perasaan yang tak pernah benar-benar pergi. Aku masih mengingatnya dengan jelas- hari pertama aku melihatnya, tawa kecilnya yang ringan, dan caranya berbicara seolah dunia ini adalah tempat yang penuh keajaiban. Aku juga masih ingat saat aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaanku, hanya untuk mendengar jawaban yang sudah kutakutkan sejak awal. "Aku nggak bisa, Rak... Maaf." Kalimat itü terus terulang di kepalaku, seperti kaset rusak yang tak bisa kuhentikan. Tapi anehnya, aku tetap di sini. Aku tetap bertahan. Mungkin ini bodoh. Mungkin aku hanya menggenggam sesuatu yang seharusnya kulepaskan sejak lama. Tapi, bagaimana caranya melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari diri sendiri? Senja yang pernah menyatukan kami kini menjadi saksi bahwa beberapa hal memang tidak bisa kembali seperti dulu. Namun, meski tak bisa kumiliki, aku masih menyimpan perasaan ini. Bukan untuk berharap, bukan untuk menunggu, tetapi sekadar untuk mengenang bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan seluruh hatiku. Dan itu sudah cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines