endless

endless

  • WpView
    Reads 141
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing49m
WpMetadataNoticeLast published Sun, Sep 11, 2022
Bahwa hidup tidak selamanya menyedihkan, Na. Mau kamu lahir dari deraian ombak paling riuh sekalipun, pada akhirnya ombak itu akan tenang. Lembaran demi lembaran sudah terlewati, dimana semesta tahu bahwa kamu sebenarnya kuat. Bahwa kamu mampu menjadi kunang-kunang terakhir yang tetap terang. ♡♡♡ Hai...untuk cerita yang berjudul 'endless' ini adalah cerita pure dari imajinasiku sendiri. Penamaan tokoh, tempat, alur itu semua hasil karanganku. So, kalau ada kesamaan mungkin itu hanya kebetulan yang tidak di sengaja, berharap semua yang membaca 'endless' lebih bijak untuk berkomentar dan berpendapat ya... ♡♡♡ Happy reading guys! Cover by ~ pinterest
All Rights Reserved
#914
mine
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Putih abu-abu
  • 𝘔𝘐𝘔𝘗𝘐
  • BENAR UNTUKMU [C]
  • Hujan Rinduku (Keluarga, Cinta, dan Impian) ☑️
  • Unspoken Things
  • Hak Milik Arissa Aura Sofea | Ongoing
  • My Perfect Husband
  • Selagi Bernama Kita
  • The Fifth Season [✔]
  • [C] Beneath His Gentle Lies

Rio menatap gadis yang berjongkok di depannya menangisi kuas yang telah terbagi menjadi dua di depan teras rumah. pria itu menjajarkan berjongkok dan emncoba menatap mata Andini yang angkuh namun kini dipenuhi dengan air mata. "jangan nangis, berisik, saya terganggu" Andini menatap Rio dengan penuh kemarahan. "pasti lo yang kasih tau ke papa dan mama kan?! daar tukang ngadu! harunya lo tau diri! gue udah cukup baik dengan nerima lo di rumah gue!" itulah ucapan kasar Andini yang selalu membal di hati Rio. setelah seminggu berlalu, Andini menatap sebuah kuas yang sama persis terletak di dalam tasnya 'jangan nangis berisik' Andini tau kuas itu dari siapa, dan dari mana asalnya. dan dalam seminggu jantung Andini ebrdetak kembali lebih cepat seperti biasa, ketika ia terlalu dekat dengan Rio, ketika Rio menggendongnya di belakang, atau ektika Rio pasrah menjadi bulan-bulanannya. dan Andini tahu, itu bukan sekedar kagum. ia jatuh cinta.

More details
WpActionLinkContent Guidelines